Google Map Ragu Ragu di Indonesia

Berikut adalah petikan email dari salah satu petinggi TeleAtlas Indonesia :

Teleatlas adalah perusahaan penyedia peta digital Google Map. Jelas mereka ragu ragu sekali invest peta Indonesia karena regulasi Geospatial Indonesia memang masih belum Jelas. Saya sempat berkoordinasi dengan Bakorsutanal mengenai publikasi Informasi Data Spatial, disana saya ketemu dengan bagian legal dan salah satu kepala bagian. Hasilnya adalah :

  1. Dalam UU No 4 tahun 2011 pasal 50 disebutkan bahawa setiap product turunan dari IG (Informasi Geografis) harus mendapatkan ijin dari Pemerintah (Bakorsutanal). Menurut mereka seharusnya memang ada Peraturan Pemerintah yang mengatur masalah ini tetapi PP tersebut belum ada dan sedang akan di bahas. Dengan mencantumkan bahwa source peta dasar dari bakorsutanal sudah cukup mengakomodir ijin dari pemerintah.
  2. Untuk itu, kami akan mengirimkan surat kepada Bakorsutanal berupa pemberitahuan bahwa Peta Dasar yang kami peroleh dari Bakorsutanal akan kami gunakan untuk applikasi yang berisi informasi yang dipublikasikan kepada masyarakat.
  3. Menurut mereka : Bakorsutanal tidak bisa melarang untuk content IG yang dibuat dan dikembangkan sendiri oleh Perorangan ataupun Perusahaan. Dan mereka malah mendukung jika ada pihak yang membantu menyebarkan informasi geografis tersebut kepada masyarakat.
  4. Dukungan mereka seperti tercantum dalam UU No 4 tahun 2011 pasal 44 ayat 3 bahwa pemerintah akan memberikan reward kepada siapa saja yang membantu menyebarkan Informasi Geografis tersebut. Kembali karena PP yang mengatur belum ada menurut team legal bakorsutanal reward yang dimaksud dapat berupa keringanan pajak bagi perusahaan yang menyelenggarakan tersebut.

Tapi tetap saja, yang beginian masih abu abu. Bagi orang bisnis abu abu bisa jadi hitam kelam kalau tidak di analisa secara detail. Semoga pemerintah cepat mengeluarkan PP yang mengatur detail pengunaan informasi Geospatial di Indonesia. Forza Indonesia..

 

Membuat Applikasi GIS Desktop-2

Find Jalan

1. Klik Project > Add Form untuk menambah form baru, kemudian set property nya seperti berikut :

Tambahkan form tersebut dengan tombel, label dan combobox sehingga akan berbentuk seperti pada gambar berikut :

2. Buat property dari masing-masing bagian seperti berikut :

Combo Box

Tombol

a. Klik tombol Trace Jalan dua kali, isi kodenya seperti berikut :

b. Klik tombol CLOSED dua kali, isi kodenya seperti berikut :

Private Sub Cmdclose_Click()

Formfindjalan.Visible = False

End Sub

Find Universitas

1. Klik Project > Add Form untuk menambah form baru kemudian set propetynya seperti berikut :

Tambah form tersebut dengan tombol, label, text dan ComboBox sehingga akan berbentuk seperti gambar berikut :

2. Buat properti dari masing-masing bagian seperti berikut :

ComboBox

Tombol

Text

a. Klik tombol TRACE Universitas dua kali,isikan kode seperti berikut :

b. Klik tombol CLOSE dua kali,isikan kode seperti berikut :

Private Sub Cmdexit_Click()

Formfinduniv.Visible = False
End Sub

Find Hotel

1. Klik Project ? Add Form untuk menambah form baru, kemudian set propertinya seperti berikut :

Sama seperti diatas tambah form tersebut dengan tombol, label, dan ComboBox sehingga akan berbentuk seperti gambar berikut :

2. Buat propertinya dari masing-masing bagian seperti berikut :

ComboBox

Tombol

Text

a. Klik tombol Trace Hotel dua kali, isikan kode seperti berikut :

b. Klik tombol CLOSE dua kali, isikan kodenya seperti berikut :

Private Sub Cmdclose_Click()

Formfindhotel.Visible = False

End Sub

Dengan demikian kita sudah membuat semua form yang kita rancang, Selanjutnya jalankan applikasi yang telah dibuat dengan menekan F5 dan akan muncul tampilan GIS seperti berikut :

Klik Find Universitas, kemudian pilih Universitas pada combo box, lalu trace universitas yang diinginkan. MapWindows akan menampilkan lokasi unversitas yang kita trace tersebut seperti gambar berikut :

Selesai… Pengembangan lebih lanjut terserah Anda..

Membedakan Peta Vektor dan Peta Raster

Kalo kita mau memodifikasi peta, kita perlu mengetahui jenis apa peta yang diinginkan. Ada dua macam peta yakni peta vektor dan peta raster.

Peta Vektor seperti dilihatkan pada gambar 1 terdiri dari titik, garis, dan area polygon. Bentuknya dapat berupa peta lokal jalan.

Peta Raster adalah peta yang diperoleh dari fotografi suatu areal, foto satelit atau foto permukaan bumi yang diperoleh dari komputer. Gambar 2 menunjukan contoh peta raster yang diambil ari satelit cuaca.

Salah satu varian dari peta raster adalah peta hasil scanner atau scan map. Sewaktu kita melakukan scan pada sebuah kertas maka terjadi proses konversi menjadi peta raster digital yang dapat digunakan sebagai sebuah layer pada peta.

Gambar 1 Peta Vektor yang menggambarkan jalan, dan batasan Negara

Gambar 2. Peta Raster yang menunjukan awan yang menyelubungi wilayah

Data Raster

Foto digital seperti areal fotografi atau foto satelit merupakan bagian dari data raster pada peta. Raster mewakili data grid continue. Nilainya menggunakan gambar berwarna seperti fotografi, yang di tampilkan dengan level merah, hijau, dan biru pada sel.

Sebuah peta biasanya terdiri dari kombinasi antara data vector dan data raster.

Data Vektor

Ada tiga tipe data vector (titik, garis, dan polygon) yang bisa digunakan untuk menampilkan informasi pada peta. Titik bisa digunakan sebagai lokasi sebuah kota atau posisi tower radio. Garis bisa digunakan untuk menunjukkan route suatu perjalanan atau menggambarkan boundary. Poligon bisa digunakan untuk menggambarkan sebuah danau atau sebuah Negara pada peta dunia. Setiap bagian dari data vector dapat saja mempunyai informasi-informasi yang bersosiasi satu dengan lainnya seperti penggunaan sebuah label untuk menggambarkan informasi pada suatu lokasi.

Gambar 3. Kombinasi peta vector dan peta raster

Data Raster

Foto digital seperti areal fotografi atau foto satelit merupakan bagian dari data raster pada peta. Raster mewakili data grid continue. Nilainya menggunakan gambar berwarna seperti fotografi, yang di tampilkan dengan level merah, hijau, dan biru pada sel.

IMAGE OVERLAY GOOGLE EARTH

Google Earth (GE) adalah Atlas Digital Dunia dan merupakan software buatan Google yang mampu memberikan gambar-gambar dari satelit menjadi salah satu Applikasi GIS (Geographic Information System) gratis yang paling mudah untuk digunakan. Layaknya sebuah applikasi GIS maka data yang tersimpan di GE mengunakan konsep Overlay. Oleh karena sebagai pengguna kita dapat menambahkan sebuah layer untuk mendapatkan informasi raster yang lebih menarik.

Artikel ini akan menjelaskan bagaimana menggunakan fungsi overlay yang ada pada Goggle Earth dengan memasukan sebuah file gambar yang diletakkan pada terrain yang ada. Ada beberapa format file gambar yang bisa ditampilkan di Google Earth seperti jpg, bmp, gif, tiff, tga, png, dan beberapa tipe lainnya. Artinya disini kita dapat memasukan USGS topografi quadrangles, meninggikan areal photografi atau melakukan remote sense image, histori peta, export file raster image dari MapInfo atau software GIS lainya. Disini saya menggunakan peta Kabupaten Labuhanbatu yang dipantau dengan google earth. File Raster yang digunakan adalah mosaic_spot.tiff yang diperoleh dari Bappeda Kabupaten Labuhanbatu. File tersebut tidak dapat saya sharing karena tidak memiliki izin dari Bappeda hanya saja sebagai latihan bisa menggunakan file AbajoPeak.tiff yang bisa di download di link ini http://www.geospatialtraining.com/GeogleEarth/AbajoPeak.tiff. File tersebut menggunakan peta Monticello UT di Utah USA. Saya menggunakan Sistem Operasi Ubuntu 7.10, untuk menginstall Google Earth di Ubuntu 7.10 tinggal ketik perintah seperti berikut di terminal:

sudo apt-get install -y –force-yes googleearth

Pastikan juga bahwa kita menggunakan Google Earth versi paling tidak versi 4. Dimulai :

  1. Buka Google Earth dan cari lokasi peta yang akan di overlay dalam contoh ini ketikkan Laboehanbatoe (sebenarnya namanya Labuhanbatu), kemudian perbesar area tersebut. Jika menggunakna file AbajoPeak.tiff ketikkan Monticello, UT.

  2. Klik tombol “Add Image Overlay . Kemudian akan ditampilkan kotak dialog Image Overlay
  3. Berinama image overlay (mosaic_spot.tiff) dengan nama Labuhanbatu kemudian klik tombol Browser. Arahkan kemana lokasi file image.tiff (mosaic-spot.tiff) kita simpan di komputer kita (/media/sda2/home/denny/Desktop/mosaic_spot.tiff). File Image .tiff ini adalah peta topographic untuk wilayah Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu Sumatera Utara.Kemudian akan muncul pemberitahuan bahwa file image belum dilakukan georeference. Langkah selanjutnya adalah melakukan georeference pada file image yang kita gunakan.
  4. Klik location kemudian gunakan dari Drag Marker disekitar gambar dengan memasukan secara manual koordinat untuk Utara, Selatan, Timur dan Barat seperti pada gambar dibawah. Untuk itu kita harus mengetahui koordinat boundary untuk setiap gambar yang di import ke Google Earth sehingga akan didapatkan gambar georeference yang benar.
  5. Pada Kotak dialog diatas kita melihat ada beberapa item tab seperti View, Altitude, dan Refresh. Kita tidak membahas detail item Tab View, Altitude, dan Refresh sebagai sebuah nilai default. Sebagai gambaran akan dijelaskan disini bahwa Refresh tab digunakan untuk menentukan overlay gambar secara otomatis berdasarkan tampilan gambar terakhir. Tools ini digunakan untuk gambar yang dilakukan updating secara frekuentitatif, tapi dalam contoh ini gambar adalah statis dan kita tidak membutuhkan refresh images. Refresh secara fungsional digunakan ketika ada kesepakatan penggunaan data seperti pada images radar cuaca yang diupdate secara terus menerus. Refresh ini dapat dimunculkan berdasarkan interval waktu. Tab altitude digunakan untuk menampilkan gambar sebagai jarak diatas sebuah permukaan untuk situasi dimana kita menginginkan sebuah gambar tampil di permukaan. Tap View digunakna untuk menentukan property kamera untuk mendapatkan tampilan 3D.
  6. Sekarang kita telah menentukan posisi gambar yang dimiliki dan akan mendapatkan tampilan pada Googgle Earth seperti dibawah ini:
  7. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengubah tampilan. Pertama kita bisa menentukan nilai transparansi dari image yang digunakan sehingga kita dapat melihat dengan jelas underlying antara terrain dengan data vector. Image yang digunakan sekarang sudah di set transparan. Kita harus sering mencoba tombol setting transparansinya sampai kita menemukan setingan tampilan yang terbaik. Sebagai catatan disaat kita menggerakkan tombol setting transparannya makaunderlaying terrain menjadi visible.
  8. Sekarang aktifkan Terrain layer pada Layer Panel untuk meletakan image berada diatas underlying terrain.
  9. Akhirnya coba tampilanya untuk mendapatkan orientasi tampilan yang lebih baik. Gunakan Tools Navigasi yang diberikan oleh Google Earth untuk mendapatkan tampilan yang lebih baik.

Cara Kerja MapServer

Pendahuluan

MapServer adalah applikasi Open Source yang memungkinkan sebuah data peta diakses melalui web. Teknologi ini pertama kali dikembangkan oleh Universitas Minesotta Amerika Serikat. Hadirnya MapServer menjadikan pekerjaan membuat Peta Digital menjadi lebih mudah dan interaktif. Interaktif peta disini diartikan bahwa pengguna dapat dengan mudah melihat dan mengubah tampilan peta seperti zoom, rotate, dan menampilkan informasi (seperti menampilkan info jalan) dan analisis( seperti menentukan rute perjalanan) pada permukaan geografi. Diagram berikut menggambarkan bagaimana user berinteraksi dengan peta interaktif berbasis MapServer.

Gambar 1. Diagram peta digital berinteraksi dengan user

Websites yang Mendukung Web Mapping

Ada beberapa websites pemetaan yang sudah bisa digunakan dan di eksporer diantaranya adalah :

  1. Wikimap http://wikimapia.org

  2. Mesonet http://mesonet.tamu.edu/

  3. SpasialGuru http://spatialguru.com/maps/

  4. MapitOut http://www.mapitout.com/

Gambar 2. Kota Medan di Wikimapia

Bagaimana MapServer bekerja

Map Server bekerja secara berdampingan dengan applikasi web server. Web Server menerima request peta melalui MapServer. MapServer mengenerate request terhadap peta dan mengirimkannya ke web server seperti pada gambar berikut.

Gambar 3. Diagram operasi standar pada MapServer

Fungsi utama dari MapServer adalah melakukan pembacaan data dari banyak sumber dan menempatkannya kedalam layer-layer secara bersamaan menjadi file graphic. Salah satu layernya bisa saja berupa gambar satelit. Setiap layer saling overlay satu dengan lainnya dan ditampilkan kedalam web browser. Sebuah contoh tampilan Overlaping yang baik diperlihatkan seperti gambar berikut.

Gambar 4. Tampilan peta dengan banyak layer

Dari gambar tersebut kita bisa melihat sebuah foto satelit (diperoleh dari remote server), garis-garis jalan, lokasi perkotaan, dan label-label kota yang di tampilkan secara generic oleh MapServer. Proses pengambaran peta (rendering) muncul setiap kali permintaan terhadap peta baru yang dilakukan oleh Mapserver termasuk ketika user melakukan level zoom terhadap tampilan peta.

Komponen-komponen Utama

Mapserver menghasilkan keluaran berupa file graphic berdasarkan masukan yang diberikan oleh user. Komponen kuncinya adalah MapServer executable yang terdiri dari CGI program, file peta, sumber data dan output gambar. Seperti pada gambar dibawah ini semua komponen bekerja bersama-sama, setelah user melakukan request/perminataan maka CGI akan mengakses file peta, menggambarkan informasi yang didapat dari sumber data dan kembali menampilkannya pada peta.

Gambar 5. Komponen Utama MapServer

Mapserver Executable

Secara sederhana MapServer menjalankan executable applikasi CGI pada web server yang secara teknis merupakan proses stateless berbasis pada HTTP. Stateless adalah sebuah proses permintaan yang dilanjutkan dengan stop running. Applikasi CGI menerima permintaan dari web server, kemudian proses dilakukan dan mengembalikan respon atau data ke web server. CGI bekerja sangat sederhana tidak diperlukan sebuah pemrograman untuk dapat menggunakannya. Kita tinggal melakukan edit berdasarkan text base, konfigurasi runtime file, membuat halaman web, dan menempatkannya bekerja pada web server. MapServer CGI executable bekerja sebagai perantara antara file peta dengan program web server yang meminta peta. Permintaan di lewatkan dalam bentuk CGI parameter dari web server menuju MapServer. Gambar yang di buat oleh MapServer selanjutnya memberikan fed back ke web server dan selanjutnya menuju user melalui web browser.

MapServer Map File

MapServer seperti sebuah mesin yang membutuhkan bahan bakar untuk dapat bekerja dan membutuhkan system pengiriman (delivery system) bahan bakar untuk mencapai mesin . Program MapServer perlu mengetahui layer peta yang akan digambar, bagaimana menggambarkannya, dan dimana lokasi sumber datanya. Data merupakan bahan bakarnya dan file peta atau .map.file merupakan system pengirimannya (delivery system). File Peta adalah text konfigurasi yang terdiri dari list setting yang digunakan untuk menggambar dan berinteraksi dengan peta. Informasi yang termuat didalamnya adalah layer data apa yang akan digambar, dimana focus geografis petanya, system proyeksi yang digunakan, format apa yang akan digunakan untuk menampilkan gambar, dan cara menentukan legenda dan skala pada peta.

Contoh script dasar pemetaan dengan satu layer.

MAP

SIZE 600 300

EXTENT -180 -90 180 90

LAYER

NAME countries

TYPE POLYGON

STATUS DEFAULT

DATA countries.shp

CLASS

OUTLINECOLOR 100 100 100

END

END

END

Ketika request atau permintaan dating dari applikasi MapServer maka reguest tersebut mesti menyebutkan sepesifikasi file peta yang diinginkan. Kemudian MapServer membuat petanya berdasarkan pada setting pada file peta yang diberikan tadi.

Sumber Data

Seperti dijelaskan pada analogi diatas bahwa file peta adalah system pengiriman (delivery system) bahan bakarnya dan sumber data adalah bahan bakarnya. Map Server dapat menggunakan sebuah array dalam jumlah besar untuk menghasilkan peta. Opsional akses data ditambahkan untuk dapat mengakses lusinan format data raster dan vector. MapServer bisa menggunakan spesifikasi Open Geospasial Concorsium (OGC) untuk mengakses dan melakukan sharing data melalui internet. Layer peta juga bisa di request dari remote server yang juga berpedoman pada spesifikasi OGC.

Referansi Bacaan :

[1] Tyler Mitchell, Web Mapping Illustration, O’Reilly Media Inc, 2005

[2] John E Harmon, Design and Implementation of GIS, John Willey & Sons Inc, 2003

Link Terkait :

KONSEP DASAR WEB GIS

Pengantar

Geographic Information System (GIS) merupakan sistem yang dirancang untuk bekerja dengan data yang tereferensi secara spasial atau koordinat-koordinat geografi. GIS memiliki kemampuan untuk melakukan pengolahan data dan melakukan operasi-operasi tertentu dengan menampilkan dan menganalisa data. Applikasi GIS saat ini tumbuh tidak hanya secara jumlah applikasi namun juga bertambah dari jenis keragaman applikasinya. Pengembangan applikasi GIS kedepannya mengarah kepada applikasi berbasis Web yang dikenal dengan Web GIS. Hal ini disebabkan karena pengembangan applikasi di lingkungan jaringan telah menunjukan potensi yang besar dalam kaitannya dengan geo informasi. Sebagai contoh adalah adanya peta online sebuah kota dimana pengguna dapat dengan mudah mencari lokasi yang diinginkan secara online melalui jaringan intranet/internet tanpa mengenal batas geografi penggunanya. Secara umum Sistem Informasi Geografis dikembangkan berdasarkan pada prinsip input/masukan data, managemen, analisis dan representasi data. Di lingkungan web prinsip-prinsip tersebut di gambarkan dan di implementasikan seperti pada table berikut :

GIS Prinsip

Pengembangan Web

Data Input Client
Manajemen Data DBMS dengan komponen spasial
Analisys Data GIS Library di Server
Representasi Data Client/server

Arsitektur

Untuk dapat melakukan komunikasi dengan komponen yang berbeda-beda di lingkungan web maka dibutuhkan sebuah web server. Karena standart dari geo data berbeda beda dan sangat spesifik maka pengembangan arsitektur system mengikuti arsitektur ‘Client Server’.

Gambar 1. Arsitektur WEB GIS

Gambar diatas menunjukan arsitektur minimum sebuah system Web GIS. Applikasi berada disisi client yang berkomunikasi dengan Server sebagai penyedia data melalui web Protokol seperti HTTP (Hyper Text Transfer Protocol). Applikasi seperti ini bisa dikembangkan dengan web browser (Mozzila Firefox, Opera, Internet Explorer, dll). Untuk menampilkan dan berinteraksi dengan data GIS, sebuah browser membutuhkan Pug-In atau Java Applet atau bahkan keduanya. Web Server bertanggung jawab terhadap proses permintaan dari client dan mengirimkan tanggapan terhadap respon tersebut. Dalam arsitektur web, sebuah web server juga mengatur komunikasi dengan server side GIS Komponen. Server side GIS Komponen bertanggung jawab terhadap koneksi kepada database spasial seperti menterjemahkan query kedalam SQL dan membuat representasi yang diteruskan ke server. Dalam kenyataannya Side Server GIS Komponen berupa software libraries yang menawarkan layanan khusus untuk analisis spasial pada data. Selain komponen hal lain yang juga sangat penting adalah aspek fungsional yang terletak di sisi client atau di server. Gambar berikut dua pendekatan yang menunjukan kemungkinan distribusi fungsional pada system client/server berdasarkan konsep pipeline visualization.

Gambar 2. Thin Vs Thick system pada Client Server

Pendekatan-1 : Thin Client : Memfokuskan diri pada sisi server. Hampir semua proses dan analisa data dilakukan berdasarkan request disisi server. Data hasil pemrosesan dikirimkan ke client dalam format HTML, yang didalamnya terdapat file gambar sehingga dapat dilihat dengan browser. Pada pendekatan ini interaksi pengguna terbatas dan tidak fleksibel

Pendekatan-2 : Thick / Fat Client : Pemrosesan data dilakukan disisi client, data dikirim dari server ke client dalam bentuk data vector yang disederhanakan. Pemrosesan dan penggambaran kembali dilakukan disisi client. Cara ini menjadikan user dapat berinteraksi lebih interaktif dan fleksibel.

Manajemen Data

Untuk melakukan menajeman data geografis paling tidak dibutuhkan sebuah DBMS (Databese Management System). Pemodelan berorientasi objek menjadi sangat dibutuhkan karena pemodelan basisdata relational tidak mampu melakukan penyimpanan data spasial. Pada analisis spasial system manajemen database memberikan beberapa keragaman. Ada beberapa keragaman applikasi yang dapat digunakan sebagai database seperti Oracle Spatial, PostgreSQL, Informix, DB2, Ingres dan yang paling popular saat ini adalah MySQL. Untuk mendapatkan pengembangan fungsional analisis pada level database beberapa DBMS telah mendukung procedural bahasa pemrograman. Oracle DBMS menawarkan dua kemungkinan untuk menghasilkan individual operation dilevel database. Yang pertama adalah PL/SQL sebuah procedural bahasa pemrograman. Yang kedua adalah Java Virtual Machine (JVM) untuk proses Java classes di level database.

Mendesain GUI

Untuk berinteraksi, berkomunikasi dan mendapatkan informasi perlu dirancang sebuah Graphical User Interface (GUI). GUI berinteraksi langsung dengan user. Karena informasi geografis biasanya sangat kompleks maka akan ditemui banyak kesulitan dalam pengarsipannya. Menciptakan aspek Dunia Virtual menjadi hal penting dalam mendesain GUI. Karakteristik untuk menciptakan dunia virtual adalah Level of Detail (LOD).

Gambar 3. Menciptakan Virtual World

Algoritma khusus dibutuhkan untuk mampu menampilkan se-invisible mungkin tampilan. Penggunaan PHP dan VRML (Virtual Reality Modeling Language) adalah sebuah ideal perancangan GUI untuk applikasi Web GIS. PHP menjadi bahasa yang paling popular untuk menciptakan web dinamis pada saat ini. VRML dikenalkan oleh Konsorsium Web3D untuk menghasilkan tampilan peta interaktif dalam web. PHP dapat menghasilkan banyak text informasi. Dalam PHP, salah satunya menjadi pengendali dari banyak informasi tersebut. Permintaan dikirimkan oleh VRML MIME (‘model/vrml’) dan kemudian menuliskan VRML nodenya. Server mengkomunikasikan semua kode PHP saat mengirimkan respon. Jadi pada line dimana kode JSP ditampilkan server mengirimkan kembali blank line kepada browser. Sangat perlu untuk memasukan header PHP dan VRML dan content type nya harus berubah sebelum VRML header ditentukan, hasil akhirnya bisa menjadi seperti dibawah ini :

<?php

Header (“Tipe-kontent : model/vrml”);

Echo “#VRML V2.0 utf8\n”;

?>

Contoh tersebut menggambarkan integrasi antara PHP dan VRML untuk membangun sebuah objek.

Detail Proses

Objek Geo Spasial terdiri dari informasi data spasial dan data non spasial. Informasi Spasial dapat divisualisasikan dengan mengkonversinya VRML dan data non Spasial ditampilkan secara dinamis di halaman HTML. Gambar berikut menunjukkan proses request data standart. Request memanggil desain dari PHP yang berinteraksi dengan database. Setelah menerima respon system mengikuti alur seperti pada gambar.

Gambar 4. Proses Request dan Respon

Database mengirimkan request data ke PHP, hasil respon dari request berupa format data dikirimkan kembali melalui browser. Disaat client melakukan request koneksi dilakukan ke DBMS, kemudian informasi spasial yang dipilih dari DBMS di convert kedalam bentuk VRML. Browser Plug In di sisi client menampilkan keluaran VRML sebagai keluaran menjadi peta. VRML juga menyediakan script yang memungkinkan sebuah proses disaat user mengklik objek. Melalui VRML ini request dikirimkan ke applikasi di server. Server menerima dan menterjemahkan menjadi informasi dan mengirimkanya ke HTML untuk di tampilkan ke Browser.

Untuk menerima data spasial dan non spasial dari DBMS dibutuhkan sebuah teknik yang mampu mengkomunikasikan antara client dan database pada server. Teknik seperti ini sudah tersedia di PHP, ASP, ASP.net, atau JSP. Pemilihan tekniknya disesuaikan dengan web Server yang digunakan. Detail arsitektur untuk menampilkan data GIS melalui web seperti pada gambar berikut :

Gambar 5. Arsitektut Publikasi Web GIS

Contoh Pemanfaatan Web GIS

Ketika terjadi Tsunami di Aceh bukti kehebatannya baru dapat kita analisa jika sudah ditampilkan kedalam bentuk peta. Gambar tersebut dapat memberikan banyak arti dan informasi lebih jika dilengkapi dengan data-data yang akurat.

Wilayah Uleule Sebelum Tsunami

Wilayah Uleule setelah Tsunami

Berikut ini adalah beberapa pengembangan applikasi GIS Web yang memungkinkan untuk dikembangkan :

Sektor

Gambaran

Contoh

Facility Management Manajemen Gedung Besar yang kompleks Organisasi ruangan seperti Kampus dan Rumah Sakit
Navigation Support Navigasi kendaraan Bermotor Location Base service yang menampilkan posisi saat ini dan
lingkungannya
Lingkungan Lingkungan perkotaan seperti karakteristik kebisingan, arah
angina, emisi, dll
Menampilkan pengurangan emisi
Bencana Alam Mengorganisasi aliran kerja penanganan bencana Mengarahkan team penyelamatan, menentukan dan mengontrol lokasi
pengungsian dengan real time data
Supply engineering Manajemen Supply Mengorganisasi jaringan

Referensi :

[1] Charter, Denny, Desain dan Applikasi GIS, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta, 2004.

[2] Rahman, Abdul, Spasial Data Modelling For 3D GIS, Springer, Berlin, 2008

[3] Darmawan, Mulyanto, Pedoman Dasar Pembuatan Geospasial, Geospasial.com, 2006

Tulisan ini juga di Publikasikan di IlmuKomputer.com

PEMETAAN, PROYEKSI, DAN SISTEM KOORDINAT

PEMETAAN

Peta merupakan gambaran suatu tempat seperti kota, negara atau benua yang memperlihatkan kharakteristik utamanya bila di lihat dari atas [Collin English Dictionary, 2003]. Jadi pemetaan dapat diartikan sebagai kegiatan penggambaran permukaan bumi yang di proyeksikan ke dalam bidang datar dengan skala tertentu. Sebuah peta dasar dibuat dengan skala terkecil mulai dari 1 : 50.000 sampai 1 : 250.000. Pembagian peta di Indonesia mengacu pada system proyeksi Universal Transvers Mercator (UTM) dengan system koordinat DGN 95 atau WGS 84.

sumut

Gambar 1. Peta Sumatera Utara (Kabupaten Labuhan batu)

PROYEKSI

Proyeksi diartikan sebagai metoda/cara dalam usaha mendapatkan bentuk ubahan dari dimensi tertentu menjadi bentuk dimensi yang sistematik. Analoginya adalah sama dengan saat kita akan menghitung luas kulit jeruk. Untuk menghitungnya kita harus mengupasnya dan meletakkannya pada bidang datar. Karena awalnya kulit jeruk tersebut 3 Dimensi dengan dikupas dan di letakkan mendatar maka dipaksakan menjadi 2 Dimensi maka sebagai akibatnya terjadi perubahan dari bentuk awal yang dikarenakan adanya sobekan, mengembang atau berkerut.

Gambar 2. Metoda Proyeksi Peta

Sistem UTM dengan system koordinat WGS 84 sering digunakan pada pemetaan wilayah Indonesia. UTM menggunakan silinder yang membungkus ellipsoid dengan kedudukan sumbu silindernya tegak lurus sumbu tegak ellipsoid (sumbu perputaran bumi) sehingga garis singgung ellipsoid dan silinder merupakan garis yang berhimpit dengan garis bujur pada ellipsoid. Pada system proyeksi UTM didefinisika posisi horizontal dua dimensi (x,y) menggunakan proyeksi silinder, transversal, dan conform yang memotong bumi pada dua meridian standart. Seluruh permukaan bumi dibagi atas 60 bagian yang disebut dengan UTM zone. Setiap zone dibatasi oleh dua meridian sebesar 6° dan memiliki meridian tengah sendiri. Sebagai contoh, zone 1 dimulai dari 180° BB hingga 174° BB, zone 2 di mulai dari 174° BB hingga 168° BB, terus kearah timur hingga zone 60 yang dimulai dari 174° BT sampai 180° BT. Batas lintang dalam system koordinat ini adalah 80° LS hingga 84° LU. Setiap bagian derajat memiliki lebar 8 yang pembagiannya dimulai dari 80° LS kearah utara. Bagian derajat dari bawah (LS) dinotasikan dimulai dari C,D,E,F, hingga X (huruf I dan O tidak digunakan). Jadi bagian derajat 80° LS hingga 72° LS diberi notasi C, 72° LS hingga 64° LS diberi notasi D, 64° LS hingga 56° LS diberi notasi E, dan seterusnya.

Gambar 3. Zona UTM Dunia

Setiap zone UTM memiliki system koordinat sendiri dengan titik nol pada perpotongan antara meridian sentralnya dengan ekuator. Untuk menghindari koordinat negative, meridian tengah diberi nilai awal absis (x) 500.000 meter. Untuk zone yang terletak dibagian selatan ekuator (LS), juga untuk menghindari koordinat negative ekuator diberi nilai awal ordinat (y) 10.000.000 meter. Sedangkan untuk zone yang terletak dibagian utara ekuator, ekuator tetap memiliki nilai ordinat 0 meter.

Untuk wilayah Indonesia terbagi atas sembilan zone UTM, dimulai dari meridian 90° BT sampai dengan 144° BT dengan batas pararel (lintang) 11° LS hingga 6° LU. Dengan demikian wilayah Indonesia dimulai dari zone 46 (meridian sentral 93° BT) hingga zone 54 (meridian sentral 141° BT).

Gambar 4. Zona UTM Indonesia

SISTEM KOORDINAT

Jika membicarakan proyeksi kita sering membicarakan Sistem Koordinat. Sistem koordinat merupakan suatu parameter yang menunjukkan bagaimana suatu objek diletakkan dalam koordinat. Ada tiga system koordinat yang digunakan pada pemetaan yakni :

1.Sistem Koordinat 1 Dimensi : satu sumbu koordinat


2.Sistem Koordinat 2 Dimensi.

3.Sistem Koordinat 3 Dimensi.