Masalah Transportasi Indonesia

Indonesia dengan Populasi 237.556.363 [2010] dengan tingkat pertumbuhan penduduk 1,49% dengan Ibu Kota Negara Jakarta seluas 650 Km2.

Penambahan 9.588.198 orang per tahun

Terdiri dari 33 Provinsi 497 wilayah dan 98 kota:

11 Metropolitan (> 1 Juta Pop), 15 kota besar (> 500.000 – 1 juta), kota medium (>100.000 – 500.000), sisanya kota kecil (<100.000).

Akibat kemacetan lalu lintas, kerugian ekonomi diperkirakan mencapai total Rp. 5.8 trilliun / tahun, Biaya operasional kendaraan menjadi Rp. 3,2 trilliun / tahun [sumber JICA Transportation master Plan Study 2004]
Masalah Utama Kemacetan di Indonesia :
1. Jumlah pemilik kendaraan pribadi dan sepeda motor bertambah dengan pesat sedangkan penambahan jalan hanya 1% / tahun [DGLT 2009]. Pembayaran tol masih manual sehingga membuat antrian semakin panjang dan traffic kontrol yang tidak optimal.
2. Public Transport dengan system BRT DKI Jakarta, Palembang, Pekanbaru, Bogor, Semarang, Yogyakarta, dan Solo.

Kondisi BRT saat ini : Diperlukan adanya informasi kapan bus akan masuk ke areal bus stop.

Membutuhkan Bus Priority System dan Ruang Kendali untuk bus location system.

3. Pelanggaran, dan kecelakaan: Jika terjadi kecelakaan di jalan toll, karakteristik toll di Indonesia adalah terbatasnya pintu keluar dan rute alternatif, imbasnya adalah jalur menjadi lebih jauh dibandingkan dengan jalur jalan biasa. Kerusakan kendaraan menjadi 10 kali lebih cepat.
Masalah tersebut secara signifikan akan berdampak pada aktivitas ekonomi dan sosial.
Fleet Monitoring System BRT Transmusi Palembang
Fleet Monitoring System BRT Transmusi Palembang
Solusinya adalah dengan menambah kontruksi jalan raya, namun cara ini membutuhkan dana yang tidak sedikit dan waktu yang lama belum lagi masalah pembebasan lahan. Selain itu diperlukan sistem transportasi cerdas yang mempu memberikan informasi informasi akurat sehingga kemacetan dapat di hindari dan diatasi dengan cara :
1. Implementasi Smartcard, area traffic control, system informasi parkir, CCTV dan Camera, dan Electronic Road Pricing (ERP).

2. System Integrasi E Ticket, Non Stop Toll Collection (ETC) yang mampu menghandle 2000 kendaraan perjam.

Advertisements

bahasan – ITS(Intelligent Transportation System) di Indonesia, sejauh manakah ?

Saya menerima e-mail dari Jerman, sahabat seorang Mahasiswa Indonesia yang melakukan studi ITS (intelligent transportation system), berikut kutipan pembahasannya :

TANYA

Inbox X

achmad zacky

to me, denny_charter, denny_charter

show details Jun 1 (4 days ago)
Reply
Follow up message
salam kenal mas denny

saya achmad zacky ambadar
sekarang sedang studi S2 di Jerman dan sedang melakukan analisis mengenai pengembangan ITS (intelligence transport system) di indonesia
saya tertarik dengan tulisan mas denny di :

https://dennycharter.wordpress.com/2008/07/26/intelligent-transportation-system-its/

saya ingin berdiskusi dengan mas denny mengenai hal ini

terima kasih
Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY

Reply
Reply to all
Forward
Denny Charter
Salam kenal juga mas zacky, Kebetulan di Indonesia saat ini memang sedang men…
Jun 1 (4 days ago)
Denny CharterLoading…
Jun 1 (4 days ago)

Denny Charter

to achmad

show details Jun 1 (4 days ago)
Reply
Follow up message
Salam kenal juga mas zacky,
Kebetulan di Indonesia saat ini memang sedang mengembangan ITS. Saya pernah di undang rapat beberapa bulan lalu oleh Departemen Perhubungan hanya saja sampai saat ini kelanjutannya masih belum jelas. Eropa kan sudah implementasi ITS dari situ mungkin bisa diambil perbandingan untuk implementasinya di Indonesia. Saya senang jika dapat berdiskusi dengan mas Zacky terutama untuk implementasi ITS di Indonesia.

Regards

Denny Charter

2009/6/1 achmad zacky <zacky_154@yahoo.com>

– Show quoted text –
salam kenal mas denny

saya achmad zacky ambadar
sekarang sedang studi S2 di Jerman dan sedang melakukan analisis mengenai pengembangan ITS (intelligence transport system) di indonesia
saya tertarik dengan tulisan mas denny di :

https://dennycharter.wordpress.com/2008/07/26/intelligent-transportation-system-its/

saya ingin berdiskusi dengan mas denny mengenai hal ini

terima kasih
Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY


Charter

Reply
Forward
achmad zacky
salam mas denny saya sekarang kuliah Transportation System. sebelum melanjutk…
Jun 1 (3 days ago)
achmad zackyLoading…
Jun 1 (3 days ago)

achmad zacky

to me

show details Jun 1 (3 days ago)
Reply
Follow up message
salam mas denny

saya sekarang kuliah Transportation System. sebelum melanjutkan kuliah disini, selama 3 tahun saya berkecimpung di dunia konsultan penataan ruang dan banyak menggunakan aplikasi GIS menggunakan ArcGIS 9.x
saya melihat biografi mas Denny sebagai seorang ahli IT (menurut pendapat saya) dan sedang bergerak di bidang pengembangan hardware untuk mendukung ITS

sebetulnya tugas saya disini sederhana, Perbandingan Model ITS di setiap negara terutama negara berkembang dan karena saya berasal dari Indonesia, saya diberi tugas untuk menyajikan permasalahan ITS di Indonesia. tugas ini sebagai bentuk nyata di lapangan dan aplikasi dari teori-teori yang diberikan di kelas

berikut telaahan saya (mohon masukannya dari mas Denny) :
sejujurnya, sepanjang pengetahuan saya, ITS di Indonesia belum sepenuhnya diaplikasikan
di Bandung mungkin pernah dicoba untuk menerepakan ATCS (Area Traffic Control System) yang dikelola Polwiltabes bekerjasama dengan Dishub, namun gaungnya hanya di awal saja dan nampaknya belum begitu optimal. sistem intergreen time juga belum dinamis sesuai dengan kondisi lalulintas dan akibatnya adalah kemacetan yang masih terjadi (saya tidak membahas perilaku sosial dan gangguan samping)

di jalan tol yang seharusnya merupakan garda terdepan dari ITS juga belum optimal (kalau tidak disebut belum ada). sistem buka tutup toll gate masih mengandalkan sistem manual (HT – Handy Talky), kemudian informasi kemacetan juga belum menggunakan sensor
informasi kemacetan di jalan tol juga “hanya” sebatas angka-angka dan panjang antrian. belum ada penerapan sebuah sistem yang terintegrasi dengan GIS yang memungkinkan rerouting kendaraan
rambu dan marka jalan tol juga masih berupa statis tool, bukan dinamis yang bisa berubah sesuai dengan kondisi lalulintas

kasus BRT moda Busway yang dikelola TransJakarta : timetable belum terintegrasi dengan ITS sehingga penumpang tidak bisa mengetahui secara online kedatangan dan keberangkatan bus

pada taksi : di beberapa taksi mungkin sudah memasang GPS. tapi pemasangan hanya dilakukan internal perusahaan untuk mengetahui posisi taksi sehingga bisa menjangkau permintaan penumpang. GPS ini tidak bisa menghasilkan floating data yang akurat dan reliable yang dikelola oleh “lembaga” lalulintas (dephub atau polisi mungkin, red) yang terintegrasi dengan GIS sehingga bisa menghasilkan informasi lalulintas yang akurat

untuk pengembangan software dan hardware ITS, saya belum memiliki informasi banyak dan saya mohon mas Denny bisa berbagi informasi untuk saya

sekian dulu analisis mentah saya
saya mohon mas Denny bisa memberi masukan lebih
jangan segan untuk kritik mas kalau analisis saya ada yang tidak berkenan. disini saya sudah terbiasa dengan pola pikir orang sini yang to the point dan tanpa basa-basi

Terima Kasih

Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY


Reply
Forward
Denny Charter
Salam Mas Zacky. Menurut pengalaman saya dilapangan karena saya praktisi… A…
Jun 2 (2 days ago)
Denny CharterLoading…
Jun 2 (2 days ago)

Denny Charter

to achmad

show details Jun 2 (2 days ago)
Reply
Follow up message
Salam Mas Zacky.

Menurut pengalaman saya dilapangan karena saya praktisi… Ada beberapa hal yang menyebabkan ITS di Indonesia berjalan tersendat-sendat :
1. Seperti yang telah mas Zacky jelaskan kalo pengembangan ITS di Indonesia dilakukan sendiri-sendiri. Seharusnya ada sebuah Raodmap Nasional mengenai implementasi ITS di Indonesia.
2. Belum adanya stadarisasi ITS seperti di Jepang dan Eropa. Sepengetahuan saya, Indonesia masih bingung untuk hal ini. Ngikut Eropa atau ngikut Jepang. Saya pernah duduk bareng team ITS dari Departemen Perhubungan. Membahas standarisasi ITS Indonesia. Acuannya sebenarnya mengarah ke Jepang salah satu alasannya karena kendaraan2 di Indonesia banyak berasal dari Jepang.
3. Butuh good father yang baik untuk itu. Implementasi ITS di Jepang di sponsori oleh perusahaan-perusahaan otomotif terkemuka. sedangkan di Indonesia sulit mencari Good Father yang baik yang bisa memacu menjalankan ITS dan yang jelas mendanai proyek tersebut. Kalau dana dari Pemerintah… sampai saat ini belum ada …hehehehe..
4. Kondisi Geografi Indonesia juga jadi kendala untuk mendapatkan ITS yang punya standar sama. Kesulitannya mulai dari SDM, sampai membangun infrastruktur di daerah.
5. Budaya. Budaya di Indonesia yang agak kampungan mungkin juga salah satu faktor sulitnya ITS di Indonesia.

Itu dulu dari saya… nanti saya lanjutkan diskusinya… menarik.. (masih di kantor soalnya)

Regards

Denny Charter

2009/6/1 achmad zacky <zacky_154@yahoo.com>
salam mas denny

– Show quoted text –

saya sekarang kuliah Transportation System. sebelum melanjutkan kuliah disini, selama 3 tahun saya berkecimpung di dunia konsultan penataan ruang dan banyak menggunakan aplikasi GIS menggunakan ArcGIS 9.x
saya melihat biografi mas Denny sebagai seorang ahli IT (menurut pendapat saya) dan sedang bergerak di bidang pengembangan hardware untuk mendukung ITS

sebetulnya tugas saya disini sederhana, Perbandingan Model ITS di setiap negara terutama negara berkembang dan karena saya berasal dari Indonesia, saya diberi tugas untuk menyajikan permasalahan ITS di Indonesia. tugas ini sebagai bentuk nyata di lapangan dan aplikasi dari teori-teori yang diberikan di kelas

berikut telaahan saya (mohon masukannya dari mas Denny) :
sejujurnya, sepanjang pengetahuan saya, ITS di Indonesia belum sepenuhnya diaplikasikan
di Bandung mungkin pernah dicoba untuk menerepakan ATCS (Area Traffic Control System) yang dikelola Polwiltabes bekerjasama dengan Dishub, namun gaungnya hanya di awal saja dan nampaknya belum begitu optimal. sistem intergreen time juga belum dinamis sesuai dengan kondisi lalulintas dan akibatnya adalah kemacetan yang masih terjadi (saya tidak membahas perilaku sosial dan gangguan samping)

di jalan tol yang seharusnya merupakan garda terdepan dari ITS juga belum optimal (kalau tidak disebut belum ada). sistem buka tutup toll gate masih mengandalkan sistem manual (HT – Handy Talky), kemudian informasi kemacetan juga belum menggunakan sensor
informasi kemacetan di jalan tol juga “hanya” sebatas angka-angka dan panjang antrian. belum ada penerapan sebuah sistem yang terintegrasi dengan GIS yang memungkinkan rerouting kendaraan
rambu dan marka jalan tol juga masih berupa statis tool, bukan dinamis yang bisa berubah sesuai dengan kondisi lalulintas

kasus BRT moda Busway yang dikelola TransJakarta : timetable belum terintegrasi dengan ITS sehingga penumpang tidak bisa mengetahui secara online kedatangan dan keberangkatan bus

pada taksi : di beberapa taksi mungkin sudah memasang GPS. tapi pemasangan hanya dilakukan internal perusahaan untuk mengetahui posisi taksi sehingga bisa menjangkau permintaan penumpang. GPS ini tidak bisa menghasilkan floating data yang akurat dan reliable yang dikelola oleh “lembaga” lalulintas (dephub atau polisi mungkin, red) yang terintegrasi dengan GIS sehingga bisa menghasilkan informasi lalulintas yang akurat

untuk pengembangan software dan hardware ITS, saya belum memiliki informasi banyak dan saya mohon mas Denny bisa berbagi informasi untuk saya

sekian dulu analisis mentah saya
saya mohon mas Denny bisa memberi masukan lebih
jangan segan untuk kritik mas kalau analisis saya ada yang tidak berkenan. disini saya sudah terbiasa dengan pola pikir orang sini yang to the point dan tanpa basa-basi

Terima Kasih

Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY



Charter

Reply
Forward
achmad zacky
Halo mas Denny komentar yang sangat bagus apa yang diungkapkan oleh mas Denny…
Jun 3 (1 day ago)
achmad zackyLoading…
Jun 3 (1 day ago)

achmad zacky

to me

show details Jun 3 (1 day ago)
Reply
Follow up message
Halo mas Denny

komentar yang sangat bagus
apa yang diungkapkan oleh mas Denny memang sangat menggambarkan kondisi nyata di indonesia hehehe
terutama jika memang saya bandingkan langsung dengan kondisi di sini

berikut saya attach model yang telah diterapkan disini. mungkin bisa menjadi inspirasi mas Denny dan juga pemerintah indonesia pada umumnya untuk pengembangan ITS ke depan

sumber : http://www.bmvbs.de/en/Transport/Mobility-and-Technology-,1902.962964/Telematics-in-transport.htm
http://www.bremicker-vt.de/dokumente/prospekte/wvz_prospekt.pdf?d6603cc67b24a9d0f8835a1c1806842d=9042a658d63a90349a8cab622feec7bf

kemudian yang menjadi pertanyaan atau bahkan renungan saya sekarang :
konsep atau model apa yang telah diterapkan di indonesia (atau jakarta pada khususnya sebagai ibu kota negara)
mungkin tidak perlu yang serumit atau terintegrasi seperti di negara maju
contoh sederhana, apakah di rambu di jalan tol telah menerapkan sistem dinamis dengan pantauan CCTV
contoh lain adalah pengintegrasian sistem angkutan umum yang memungkinkan pengguna memperkirakan lama perjalanan seperti di link berikut : http://www.mvv-muenchen.de/

terima kasih

Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY


From: Denny Charter <dennycharter@gmail.com>
To: achmad zacky <zacky_154@yahoo.com>
Sent: Tuesday, June 2, 2009 12:53:19 PM
Subject: Re: TANYA

Salam Mas Zacky.

Menurut pengalaman saya dilapangan karena saya praktisi… Ada beberapa hal yang menyebabkan ITS di Indonesia berjalan tersendat-sendat :
1. Seperti yang telah mas Zacky jelaskan kalo pengembangan ITS di Indonesia dilakukan sendiri-sendiri. Seharusnya ada sebuah Raodmap Nasional mengenai implementasi ITS di Indonesia.
2. Belum adanya stadarisasi ITS seperti di Jepang dan Eropa. Sepengetahuan saya, Indonesia masih bingung untuk hal ini. Ngikut Eropa atau ngikut Jepang. Saya pernah duduk bareng team ITS dari Departemen Perhubungan. Membahas standarisasi ITS Indonesia. Acuannya sebenarnya mengarah ke Jepang salah satu alasannya karena kendaraan2 di Indonesia banyak berasal dari Jepang.
3. Butuh good father yang baik untuk itu. Implementasi ITS di Jepang di sponsori oleh perusahaan-perusahaan otomotif terkemuka. sedangkan di Indonesia sulit mencari Good Father yang baik yang bisa memacu menjalankan ITS dan yang jelas mendanai proyek tersebut. Kalau dana dari Pemerintah… sampai saat ini belum ada …hehehehe..
4. Kondisi Geografi Indonesia juga jadi kendala untuk mendapatkan ITS yang punya standar sama. Kesulitannya mulai dari SDM, sampai membangun infrastruktur di daerah.
5. Budaya. Budaya di Indonesia yang agak kampungan mungkin juga salah satu faktor sulitnya ITS di Indonesia.

Itu dulu dari saya… nanti saya lanjutkan diskusinya… menarik.. (masih di kantor soalnya)

Regards

Denny Charter


Charter

Reply
Forward

Denny Charter

to achmad

show details 11:37 PM (13 hours ago)
Reply
Follow up message

Dear mas Zacky.

Setelah membaca-baca file2 dari mas Zacky (walau terbata-bata pake bhs
Jerman soalnya) 🙂  Saya terkagum-kagum dengan ITS disana…Bermimpi
suatu saat di Indonesia bisa seperti itu…cuma Saya yakin suatu saat
Indonesia Bisa…

Untuk konsep penerapan di Jakarta dan Indonesia saya nggak bisa
komentar banyak. Soalnya temen2 di pemerintahan yang jelas lebih tahu.
Saya berniat mempublish diskusi kita ini di Blog berharap pemerintah
membaca diskusi kita ini (nggak ngarap banget pastinya 🙂 ) .
Sepengetahuan saya dan pengamatan saya di Jakarta saat ini baru Busway
yang sudah berjalan walaupun sebenarnya masih jauh dari sempurna.
Karena dikota aslinya infrastruktur Busway dibangun tersendiri. Kalau
di Jakarta terkesan dipaksakan. Jalur Busway mengambil paksa jalur
jalan umum akibatnya terjadi penyempitan dan kemacetan dibeberapa
titik menjadi tambah parah. Mungkin untuk perkembangan infrastruktur
transfortasi di Jakarta sebagai referensi bisa di lihat di forum ini :
http://forum.otomotifnet.com/forum/showthread.php?t=202

Sejak bergema nya ‘Busway’ di Jakarta, di daerah juga tidak
ketinggalan. Beberapa daerah di Indonesia mengembangkan sistem yang
serupa seperti di Bogor ada Trans Pakuan, atau di Palembang dengan
Trans Musi.

Untuk pemanfaatan CCTV dinamis dan terintegrasi saya rasa belum…
mungkin iya dibeberapa lokasi ada yang sudah menggunakan CCTV cuma
sepertinya statis.  Apa lagi sistem angkutan umum yang memungkinkan
pengguna memperkirakan lamanya perjalanan saya rasa belum ada yang di
implementasikan dengan baik. Saya pernah membicarakan hal tersebut
dengan teman2 lainnya yang juga konsen pada pengembangan software
transportasi seperti Bpk. Anan Hartanto dari Semarang
(www.inotrans.com). Mengintegrasikan antara Sistem Pelacakan kendaraan
berbasis GPS dan GIS dengan applikasi eTicketing Transportasi sehingga
penumpang bisa mengetahui kapan kendaraan datang, waktu tempuh dan
informasi lainnya.

Resource di Indonesia sebenarnya punya potensi cuma sangat disayangkan
karena pemerintah kurang memberdayakannya… Sekian dulu…Terima
Kasih.

Regards

Denny Charter


Intelligent Transportation System (ITS)

Pada tahun 1988, OECD (Oraganitation for Economic Coorporation and Development) di Paris merupakan organisasi pertama yang menyatakan bahwa negara-negara maju setiap tahunnya kehilangan millyaran dolar Amerika dari bidang transportasi hanya karena pengemudi tidak mempunyai cukup informasi yang terkait mengenai navigasi [Krakiwsky, 1993]. IVHS AMERIKA (1992) adalah organisasi pertama yang mengkuantifikasi pernyataan OECD tersebut. Dalam laporannya, IVHS AMERIKA melaporkan bahwa pada tahun 1991 di Amerika Serikat 41.000 meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, dan lebih dari 5 juta orang terluka. Disamping itu kemacetan lalu lintas dipersalahkan sebagai faktor penghiang produktifitas kerja yang diestimasi merugikan Amerika Serikat sebesar 100 milyar dillar per tahun. Disamping itu kecelakaan-kecelakaan lalu lintas, yang sebagaiannya terkait dengan kemacetan lalu lintas, mengkontribusikan kerugian lainya yang diestimasi sebesar 70 milyar dollar per tahun. Setelah mempelajari karakterisrik persoalan tersebut, IVHS AMERIKA kemudian menyimpulkan bahwa sistem navigasi IVHS (Intelligent Vehicle Highway systems), sekarang dinamakan ITS (Intelligent Transportation Systems) dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan diatas. ITS memadukan antara faktor manusia (people), jalan (road), dan kendaraan (vehicles) dengan memanfaatkan stade of the art teknologi informasi.

Gambar 1. Elemen Intelligent Transportation System

ITS merupakan sintesa dari beberapa teknologi seperti penentuan posisi, komunikasi, sistem informasi, kontrol dan elektronik. Dalam kaitannya dengan teknologi pendukung ITS, GPS biasanya berperan sebagai teknologi penentuan posisinya dan GIS (Geographic Information System) berperan sebagai teknologi sistem informasinya [Arronoff, 1989; Autenucci et al.,1991]. Sistem navigasi ITS dapat diklasifikasikan dalam empat tipe yaitu : Autonomous ITS, Fleet Management ITS, Advisory ITS dan Inventory ITS.

Sistem Autonomous ITS terdiri dari sistem penentuan posisi dan sistem peta elektronik yang ditempatkan pada kendaraan dan dimaksudkan untuk memberikan kemampuan navigasi yang lebih baik bagi pengemudi kendaraan yang bersangkutan. Sarana ini tidak mempunyai komunikasi dengan sistem luar kendaraan kecuali kalau menggunakan GPS untuk penentuan posisinya dimana dalam hal ini diperlukan antena untuk menerima sinyal GPS.

Fleet Management ITS berfungsi untuk mengelola kendaraan dari pusat pengontrol (dispatch center) melalui hubungan komunikasi. Dalam sistem ini kendaraan-kendaraan yang bersangkutan diperlengkapi dengan sistem penentuan posisi dan umumnya mereka tidak diperlengkapi dengan sistem peta elektronik. Kendaraan-kendaraan tersebut melaporkan posisinya kepusat pengontrol sehingga pusat pengontrol mempunyai kemudahan untuk mengelola pergerakan kendaraan tersebut. Disamping memberikan instruksi-instruksi mengenai pengarahan, pusat pengontrol juga bertanggung jawab memberikan informasi-informasi yang diperlukan oleh pengemudi kendaraan sepeti informasi cuaca dan keadaan lalu lintas.

Gambar 2. Arsitektur Fleet Management ITS pada Taksi

Untuk Advisory ITS system menggabungkan aspek penentuan posisi dan sistem peta elektronik dari sistem autonomous ITS dengan aspek komunikasi dari arsitektur sistem fleet management ITS, Sistem advisory ITS adalah autonomous dalam artian bahwa sistem ini tidak di kontrol oleh suatu pusat pengontrol (dispatch center), tetapi pada saat yang sama sistem ini merupakan bagian dari armada kendaraan yang mendapat pelayanan dari pusat informasi lalu lintas. Pada beberapa sistem advisory ITS, kendaraan – kendaraan tertentu berdiri sendiri sebagai traffic probes, yang memberikan kendaraan-kendaraan lainnya (yang tidak terdefinisikan oleh pusat informasi lalu lintas) informasi-informasi terbaru tentang kondisi lalu lintas dan cuaca.

Yang terakhir adalah Inventory ITS System. Sistem ini biasanya terdiri atas kendaraan yang berdiri sendiri dan dilengkapi dengan kamera video digital untuk mengumpulkan data (lengkap dengan koordinat dan waktu pengambilan) yang terkait dengan jalan; yang diperlukan antara lain untuk keperluan inventarisasi jalan, pemeliharaan jalan, serta penyelidikan objek-objek pengganggu lalu lintas. Kendaraan – kendaraan yang digunakan juga diperlengkapi dengan alat penentuan posisi, data logger, serta pendisplay data dalam bentuk peta elektronik.