Indonesia Digital Landscape

Advertisements

Google Map Ragu Ragu di Indonesia

Berikut adalah petikan email dari salah satu petinggi TeleAtlas Indonesia :

Teleatlas adalah perusahaan penyedia peta digital Google Map. Jelas mereka ragu ragu sekali invest peta Indonesia karena regulasi Geospatial Indonesia memang masih belum Jelas. Saya sempat berkoordinasi dengan Bakorsutanal mengenai publikasi Informasi Data Spatial, disana saya ketemu dengan bagian legal dan salah satu kepala bagian. Hasilnya adalah :

  1. Dalam UU No 4 tahun 2011 pasal 50 disebutkan bahawa setiap product turunan dari IG (Informasi Geografis) harus mendapatkan ijin dari Pemerintah (Bakorsutanal). Menurut mereka seharusnya memang ada Peraturan Pemerintah yang mengatur masalah ini tetapi PP tersebut belum ada dan sedang akan di bahas. Dengan mencantumkan bahwa source peta dasar dari bakorsutanal sudah cukup mengakomodir ijin dari pemerintah.
  2. Untuk itu, kami akan mengirimkan surat kepada Bakorsutanal berupa pemberitahuan bahwa Peta Dasar yang kami peroleh dari Bakorsutanal akan kami gunakan untuk applikasi yang berisi informasi yang dipublikasikan kepada masyarakat.
  3. Menurut mereka : Bakorsutanal tidak bisa melarang untuk content IG yang dibuat dan dikembangkan sendiri oleh Perorangan ataupun Perusahaan. Dan mereka malah mendukung jika ada pihak yang membantu menyebarkan informasi geografis tersebut kepada masyarakat.
  4. Dukungan mereka seperti tercantum dalam UU No 4 tahun 2011 pasal 44 ayat 3 bahwa pemerintah akan memberikan reward kepada siapa saja yang membantu menyebarkan Informasi Geografis tersebut. Kembali karena PP yang mengatur belum ada menurut team legal bakorsutanal reward yang dimaksud dapat berupa keringanan pajak bagi perusahaan yang menyelenggarakan tersebut.

Tapi tetap saja, yang beginian masih abu abu. Bagi orang bisnis abu abu bisa jadi hitam kelam kalau tidak di analisa secara detail. Semoga pemerintah cepat mengeluarkan PP yang mengatur detail pengunaan informasi Geospatial di Indonesia. Forza Indonesia..

 

bahasan – ITS(Intelligent Transportation System) di Indonesia, sejauh manakah ?

Saya menerima e-mail dari Jerman, sahabat seorang Mahasiswa Indonesia yang melakukan studi ITS (intelligent transportation system), berikut kutipan pembahasannya :

TANYA

Inbox X

achmad zacky

to me, denny_charter, denny_charter

show details Jun 1 (4 days ago)
Reply
Follow up message
salam kenal mas denny

saya achmad zacky ambadar
sekarang sedang studi S2 di Jerman dan sedang melakukan analisis mengenai pengembangan ITS (intelligence transport system) di indonesia
saya tertarik dengan tulisan mas denny di :

https://dennycharter.wordpress.com/2008/07/26/intelligent-transportation-system-its/

saya ingin berdiskusi dengan mas denny mengenai hal ini

terima kasih
Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY

Reply
Reply to all
Forward
Denny Charter
Salam kenal juga mas zacky, Kebetulan di Indonesia saat ini memang sedang men…
Jun 1 (4 days ago)
Denny CharterLoading…
Jun 1 (4 days ago)

Denny Charter

to achmad

show details Jun 1 (4 days ago)
Reply
Follow up message
Salam kenal juga mas zacky,
Kebetulan di Indonesia saat ini memang sedang mengembangan ITS. Saya pernah di undang rapat beberapa bulan lalu oleh Departemen Perhubungan hanya saja sampai saat ini kelanjutannya masih belum jelas. Eropa kan sudah implementasi ITS dari situ mungkin bisa diambil perbandingan untuk implementasinya di Indonesia. Saya senang jika dapat berdiskusi dengan mas Zacky terutama untuk implementasi ITS di Indonesia.

Regards

Denny Charter

2009/6/1 achmad zacky <zacky_154@yahoo.com>

– Show quoted text –
salam kenal mas denny

saya achmad zacky ambadar
sekarang sedang studi S2 di Jerman dan sedang melakukan analisis mengenai pengembangan ITS (intelligence transport system) di indonesia
saya tertarik dengan tulisan mas denny di :

https://dennycharter.wordpress.com/2008/07/26/intelligent-transportation-system-its/

saya ingin berdiskusi dengan mas denny mengenai hal ini

terima kasih
Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY


Charter

Reply
Forward
achmad zacky
salam mas denny saya sekarang kuliah Transportation System. sebelum melanjutk…
Jun 1 (3 days ago)
achmad zackyLoading…
Jun 1 (3 days ago)

achmad zacky

to me

show details Jun 1 (3 days ago)
Reply
Follow up message
salam mas denny

saya sekarang kuliah Transportation System. sebelum melanjutkan kuliah disini, selama 3 tahun saya berkecimpung di dunia konsultan penataan ruang dan banyak menggunakan aplikasi GIS menggunakan ArcGIS 9.x
saya melihat biografi mas Denny sebagai seorang ahli IT (menurut pendapat saya) dan sedang bergerak di bidang pengembangan hardware untuk mendukung ITS

sebetulnya tugas saya disini sederhana, Perbandingan Model ITS di setiap negara terutama negara berkembang dan karena saya berasal dari Indonesia, saya diberi tugas untuk menyajikan permasalahan ITS di Indonesia. tugas ini sebagai bentuk nyata di lapangan dan aplikasi dari teori-teori yang diberikan di kelas

berikut telaahan saya (mohon masukannya dari mas Denny) :
sejujurnya, sepanjang pengetahuan saya, ITS di Indonesia belum sepenuhnya diaplikasikan
di Bandung mungkin pernah dicoba untuk menerepakan ATCS (Area Traffic Control System) yang dikelola Polwiltabes bekerjasama dengan Dishub, namun gaungnya hanya di awal saja dan nampaknya belum begitu optimal. sistem intergreen time juga belum dinamis sesuai dengan kondisi lalulintas dan akibatnya adalah kemacetan yang masih terjadi (saya tidak membahas perilaku sosial dan gangguan samping)

di jalan tol yang seharusnya merupakan garda terdepan dari ITS juga belum optimal (kalau tidak disebut belum ada). sistem buka tutup toll gate masih mengandalkan sistem manual (HT – Handy Talky), kemudian informasi kemacetan juga belum menggunakan sensor
informasi kemacetan di jalan tol juga “hanya” sebatas angka-angka dan panjang antrian. belum ada penerapan sebuah sistem yang terintegrasi dengan GIS yang memungkinkan rerouting kendaraan
rambu dan marka jalan tol juga masih berupa statis tool, bukan dinamis yang bisa berubah sesuai dengan kondisi lalulintas

kasus BRT moda Busway yang dikelola TransJakarta : timetable belum terintegrasi dengan ITS sehingga penumpang tidak bisa mengetahui secara online kedatangan dan keberangkatan bus

pada taksi : di beberapa taksi mungkin sudah memasang GPS. tapi pemasangan hanya dilakukan internal perusahaan untuk mengetahui posisi taksi sehingga bisa menjangkau permintaan penumpang. GPS ini tidak bisa menghasilkan floating data yang akurat dan reliable yang dikelola oleh “lembaga” lalulintas (dephub atau polisi mungkin, red) yang terintegrasi dengan GIS sehingga bisa menghasilkan informasi lalulintas yang akurat

untuk pengembangan software dan hardware ITS, saya belum memiliki informasi banyak dan saya mohon mas Denny bisa berbagi informasi untuk saya

sekian dulu analisis mentah saya
saya mohon mas Denny bisa memberi masukan lebih
jangan segan untuk kritik mas kalau analisis saya ada yang tidak berkenan. disini saya sudah terbiasa dengan pola pikir orang sini yang to the point dan tanpa basa-basi

Terima Kasih

Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY


Reply
Forward
Denny Charter
Salam Mas Zacky. Menurut pengalaman saya dilapangan karena saya praktisi… A…
Jun 2 (2 days ago)
Denny CharterLoading…
Jun 2 (2 days ago)

Denny Charter

to achmad

show details Jun 2 (2 days ago)
Reply
Follow up message
Salam Mas Zacky.

Menurut pengalaman saya dilapangan karena saya praktisi… Ada beberapa hal yang menyebabkan ITS di Indonesia berjalan tersendat-sendat :
1. Seperti yang telah mas Zacky jelaskan kalo pengembangan ITS di Indonesia dilakukan sendiri-sendiri. Seharusnya ada sebuah Raodmap Nasional mengenai implementasi ITS di Indonesia.
2. Belum adanya stadarisasi ITS seperti di Jepang dan Eropa. Sepengetahuan saya, Indonesia masih bingung untuk hal ini. Ngikut Eropa atau ngikut Jepang. Saya pernah duduk bareng team ITS dari Departemen Perhubungan. Membahas standarisasi ITS Indonesia. Acuannya sebenarnya mengarah ke Jepang salah satu alasannya karena kendaraan2 di Indonesia banyak berasal dari Jepang.
3. Butuh good father yang baik untuk itu. Implementasi ITS di Jepang di sponsori oleh perusahaan-perusahaan otomotif terkemuka. sedangkan di Indonesia sulit mencari Good Father yang baik yang bisa memacu menjalankan ITS dan yang jelas mendanai proyek tersebut. Kalau dana dari Pemerintah… sampai saat ini belum ada …hehehehe..
4. Kondisi Geografi Indonesia juga jadi kendala untuk mendapatkan ITS yang punya standar sama. Kesulitannya mulai dari SDM, sampai membangun infrastruktur di daerah.
5. Budaya. Budaya di Indonesia yang agak kampungan mungkin juga salah satu faktor sulitnya ITS di Indonesia.

Itu dulu dari saya… nanti saya lanjutkan diskusinya… menarik.. (masih di kantor soalnya)

Regards

Denny Charter

2009/6/1 achmad zacky <zacky_154@yahoo.com>
salam mas denny

– Show quoted text –

saya sekarang kuliah Transportation System. sebelum melanjutkan kuliah disini, selama 3 tahun saya berkecimpung di dunia konsultan penataan ruang dan banyak menggunakan aplikasi GIS menggunakan ArcGIS 9.x
saya melihat biografi mas Denny sebagai seorang ahli IT (menurut pendapat saya) dan sedang bergerak di bidang pengembangan hardware untuk mendukung ITS

sebetulnya tugas saya disini sederhana, Perbandingan Model ITS di setiap negara terutama negara berkembang dan karena saya berasal dari Indonesia, saya diberi tugas untuk menyajikan permasalahan ITS di Indonesia. tugas ini sebagai bentuk nyata di lapangan dan aplikasi dari teori-teori yang diberikan di kelas

berikut telaahan saya (mohon masukannya dari mas Denny) :
sejujurnya, sepanjang pengetahuan saya, ITS di Indonesia belum sepenuhnya diaplikasikan
di Bandung mungkin pernah dicoba untuk menerepakan ATCS (Area Traffic Control System) yang dikelola Polwiltabes bekerjasama dengan Dishub, namun gaungnya hanya di awal saja dan nampaknya belum begitu optimal. sistem intergreen time juga belum dinamis sesuai dengan kondisi lalulintas dan akibatnya adalah kemacetan yang masih terjadi (saya tidak membahas perilaku sosial dan gangguan samping)

di jalan tol yang seharusnya merupakan garda terdepan dari ITS juga belum optimal (kalau tidak disebut belum ada). sistem buka tutup toll gate masih mengandalkan sistem manual (HT – Handy Talky), kemudian informasi kemacetan juga belum menggunakan sensor
informasi kemacetan di jalan tol juga “hanya” sebatas angka-angka dan panjang antrian. belum ada penerapan sebuah sistem yang terintegrasi dengan GIS yang memungkinkan rerouting kendaraan
rambu dan marka jalan tol juga masih berupa statis tool, bukan dinamis yang bisa berubah sesuai dengan kondisi lalulintas

kasus BRT moda Busway yang dikelola TransJakarta : timetable belum terintegrasi dengan ITS sehingga penumpang tidak bisa mengetahui secara online kedatangan dan keberangkatan bus

pada taksi : di beberapa taksi mungkin sudah memasang GPS. tapi pemasangan hanya dilakukan internal perusahaan untuk mengetahui posisi taksi sehingga bisa menjangkau permintaan penumpang. GPS ini tidak bisa menghasilkan floating data yang akurat dan reliable yang dikelola oleh “lembaga” lalulintas (dephub atau polisi mungkin, red) yang terintegrasi dengan GIS sehingga bisa menghasilkan informasi lalulintas yang akurat

untuk pengembangan software dan hardware ITS, saya belum memiliki informasi banyak dan saya mohon mas Denny bisa berbagi informasi untuk saya

sekian dulu analisis mentah saya
saya mohon mas Denny bisa memberi masukan lebih
jangan segan untuk kritik mas kalau analisis saya ada yang tidak berkenan. disini saya sudah terbiasa dengan pola pikir orang sini yang to the point dan tanpa basa-basi

Terima Kasih

Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY



Charter

Reply
Forward
achmad zacky
Halo mas Denny komentar yang sangat bagus apa yang diungkapkan oleh mas Denny…
Jun 3 (1 day ago)
achmad zackyLoading…
Jun 3 (1 day ago)

achmad zacky

to me

show details Jun 3 (1 day ago)
Reply
Follow up message
Halo mas Denny

komentar yang sangat bagus
apa yang diungkapkan oleh mas Denny memang sangat menggambarkan kondisi nyata di indonesia hehehe
terutama jika memang saya bandingkan langsung dengan kondisi di sini

berikut saya attach model yang telah diterapkan disini. mungkin bisa menjadi inspirasi mas Denny dan juga pemerintah indonesia pada umumnya untuk pengembangan ITS ke depan

sumber : http://www.bmvbs.de/en/Transport/Mobility-and-Technology-,1902.962964/Telematics-in-transport.htm
http://www.bremicker-vt.de/dokumente/prospekte/wvz_prospekt.pdf?d6603cc67b24a9d0f8835a1c1806842d=9042a658d63a90349a8cab622feec7bf

kemudian yang menjadi pertanyaan atau bahkan renungan saya sekarang :
konsep atau model apa yang telah diterapkan di indonesia (atau jakarta pada khususnya sebagai ibu kota negara)
mungkin tidak perlu yang serumit atau terintegrasi seperti di negara maju
contoh sederhana, apakah di rambu di jalan tol telah menerapkan sistem dinamis dengan pantauan CCTV
contoh lain adalah pengintegrasian sistem angkutan umum yang memungkinkan pengguna memperkirakan lama perjalanan seperti di link berikut : http://www.mvv-muenchen.de/

terima kasih

Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY


From: Denny Charter <dennycharter@gmail.com>
To: achmad zacky <zacky_154@yahoo.com>
Sent: Tuesday, June 2, 2009 12:53:19 PM
Subject: Re: TANYA

Salam Mas Zacky.

Menurut pengalaman saya dilapangan karena saya praktisi… Ada beberapa hal yang menyebabkan ITS di Indonesia berjalan tersendat-sendat :
1. Seperti yang telah mas Zacky jelaskan kalo pengembangan ITS di Indonesia dilakukan sendiri-sendiri. Seharusnya ada sebuah Raodmap Nasional mengenai implementasi ITS di Indonesia.
2. Belum adanya stadarisasi ITS seperti di Jepang dan Eropa. Sepengetahuan saya, Indonesia masih bingung untuk hal ini. Ngikut Eropa atau ngikut Jepang. Saya pernah duduk bareng team ITS dari Departemen Perhubungan. Membahas standarisasi ITS Indonesia. Acuannya sebenarnya mengarah ke Jepang salah satu alasannya karena kendaraan2 di Indonesia banyak berasal dari Jepang.
3. Butuh good father yang baik untuk itu. Implementasi ITS di Jepang di sponsori oleh perusahaan-perusahaan otomotif terkemuka. sedangkan di Indonesia sulit mencari Good Father yang baik yang bisa memacu menjalankan ITS dan yang jelas mendanai proyek tersebut. Kalau dana dari Pemerintah… sampai saat ini belum ada …hehehehe..
4. Kondisi Geografi Indonesia juga jadi kendala untuk mendapatkan ITS yang punya standar sama. Kesulitannya mulai dari SDM, sampai membangun infrastruktur di daerah.
5. Budaya. Budaya di Indonesia yang agak kampungan mungkin juga salah satu faktor sulitnya ITS di Indonesia.

Itu dulu dari saya… nanti saya lanjutkan diskusinya… menarik.. (masih di kantor soalnya)

Regards

Denny Charter


Charter

Reply
Forward

Denny Charter

to achmad

show details 11:37 PM (13 hours ago)
Reply
Follow up message

Dear mas Zacky.

Setelah membaca-baca file2 dari mas Zacky (walau terbata-bata pake bhs
Jerman soalnya) 🙂  Saya terkagum-kagum dengan ITS disana…Bermimpi
suatu saat di Indonesia bisa seperti itu…cuma Saya yakin suatu saat
Indonesia Bisa…

Untuk konsep penerapan di Jakarta dan Indonesia saya nggak bisa
komentar banyak. Soalnya temen2 di pemerintahan yang jelas lebih tahu.
Saya berniat mempublish diskusi kita ini di Blog berharap pemerintah
membaca diskusi kita ini (nggak ngarap banget pastinya 🙂 ) .
Sepengetahuan saya dan pengamatan saya di Jakarta saat ini baru Busway
yang sudah berjalan walaupun sebenarnya masih jauh dari sempurna.
Karena dikota aslinya infrastruktur Busway dibangun tersendiri. Kalau
di Jakarta terkesan dipaksakan. Jalur Busway mengambil paksa jalur
jalan umum akibatnya terjadi penyempitan dan kemacetan dibeberapa
titik menjadi tambah parah. Mungkin untuk perkembangan infrastruktur
transfortasi di Jakarta sebagai referensi bisa di lihat di forum ini :
http://forum.otomotifnet.com/forum/showthread.php?t=202

Sejak bergema nya ‘Busway’ di Jakarta, di daerah juga tidak
ketinggalan. Beberapa daerah di Indonesia mengembangkan sistem yang
serupa seperti di Bogor ada Trans Pakuan, atau di Palembang dengan
Trans Musi.

Untuk pemanfaatan CCTV dinamis dan terintegrasi saya rasa belum…
mungkin iya dibeberapa lokasi ada yang sudah menggunakan CCTV cuma
sepertinya statis.  Apa lagi sistem angkutan umum yang memungkinkan
pengguna memperkirakan lamanya perjalanan saya rasa belum ada yang di
implementasikan dengan baik. Saya pernah membicarakan hal tersebut
dengan teman2 lainnya yang juga konsen pada pengembangan software
transportasi seperti Bpk. Anan Hartanto dari Semarang
(www.inotrans.com). Mengintegrasikan antara Sistem Pelacakan kendaraan
berbasis GPS dan GIS dengan applikasi eTicketing Transportasi sehingga
penumpang bisa mengetahui kapan kendaraan datang, waktu tempuh dan
informasi lainnya.

Resource di Indonesia sebenarnya punya potensi cuma sangat disayangkan
karena pemerintah kurang memberdayakannya… Sekian dulu…Terima
Kasih.

Regards

Denny Charter


Cerita Neraka Orang Indonesia

Seorang warga Indonesia meninggal dan menuju ke Neraka. Disana ia mendapatkan bahwa terdapat neraka yang berbeda-beda bagi tiap negara.

Pertama ia ke neraka Jerman dan bertanya: “Kalian diapain aja di sini?”
Jawab mereka: “Pertama-tama, kita didudukkan di atas kursi listrik selama satu jam. Lalu ada yang membaringkan kita di atas ranjang paku selama satu jam lagi. Lalu, setan Jerman muncul dan memecut kita sepanjang sisa hari.”

Karena kedengarannya tidak menyenangkan, sang orang Indonesia menuju tempat lain. Ia coba melihat-lihat bagaimana keadaan di neraka AS dan neraka Rusia, dan banyak lagi. Ia mendapatkan bahwa kesemua neraka-neraka itu kurang-lebih mirip dengan neraka
orang Jerman. Setiap orang mendapat perlakuan serupa, disiksa di kursi listrik, dibaringkan di ranjang paku, lalu dipecut sepanjang hari.

Akhirnya ia tiba di neraka Indonesia, dan melihat antrian panjang orang yang menunggu giliran ingin masuk kesana.

Dengan tercengang ia bertanya: “Apa sih hukuman yang diberlakukan disini?”

Ia memperoleh jawaban: “Pertama-tama, ada yang mendudukkan kita di atas kursi listrik selama satu jam. Lalu ada yang membaringkan kita di atas ranjang paku selama satu jam lagi. Kemudian setan Indonesia muncul dan memecut kita selama sisa hari.”

Si orang Indonesia tercengang dan berkomentar :
“Tapi itu persis sama dengan neraka-neraka yang lain, kan? Lantas kenapa dong begitu banyak orang ngantri pengen masuk kesini?”

“Disini maintenance-nya payah banget, kursi listrik pada nggak nyala, ada yang mencuri seluruh paku dari ranjang paku, dan setannya adalah mantan pegawai negeri, jadi ia cuma datang, tandatangan absen, lalu pergi ke kantin……!”

(Copy-Paste dari VGI)

Copy Paste dari azuwir azzurri

Linux di Indonesia

Sejarah Linux di Indonesia
Era Pra 1990an

Era 1980-an merupakan akhir dari zaman keemasan komputer mini — komputer yang tidak secanggih “main-frame”, namun setiap sistem terdiri dari bongkahan besar. Nama-nama besar pada zaman tersebut, seperti “DEC – Digital Equipment Corp.”, “DG — Data General”, “HP — Hewlett Packard”, “Honeywell — Bull”, “Prime”, dan beberapa nama lainnya. Setiap komputer mini ini, dijalankan dengan sistem operasi tersendiri. Setiap sistem operasi ini tidak cocok (kompatibel) dengan sistem operasi dari sistem lainnya. Sebuah program yang dikembangkan pada sistem tertentu, belum tentu dengan mudah dapat dijalankan pada sistem lainnya.

Masalah ini mulai teratasi dengan sebuah sistem operasi yang lagi naik daun, yaitu UNIXTM. Sistem UNIX ini dapat dijalankan pada berbagai jenis komputer. Selain beroperasi pada komputer mini, UNIX pun dapat dioperasikan pada sebuah generasi komputer “super mikro”, yang berbasis prosesor 32 bit seperti Motorola MC68000. Ya: pada waktu itu, Motorola belum terkenal sebagai produser Hand Phone!

Sistem berbasis UNIX pertama di Universitas Indonesia (1983) ialah komputer “Dual 83/20″ dengan sistem operasi UNIX versi 7, memori 1 Mbyte, serta disk (8”) dengan kapasitas 20 Mbytes. Sistem tersebut tentunya sangat “terbatas” dibandingkan komputer zaman sekarang. Namun, penelitian dengan memanfaatkan komputer tersebut, menghasilkan puluhan sarjana S1 UI. Tema penelitian S1 pada saat tersebut berkisar dalam bidang jaringan komputer, seperti pengembangan email (PESAN), alih berkas (MIKAS), porting UUCP, X.25, LAN ethernet, network printer server, dan lainnya. Komputer “Dual 83/20” ini, kemudian lebih dikenal dengan nama “INDOGTW” (Indonesian Gateway), karena pada akhir tahun 1980-an digunakan “dedicated email” server ke luar negeri. Sistem INDOGTW ini beroperasi non-stop 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Fungsi riset sistem tersebut di atas, digantikan oleh komputer baru “INDOVAX”, yaitu DEC VAX-11/750 dengan sistem unix 4.X BSD dengan memori 2 Mbytes, serta disk 300 Mbytes. Pada waktu itu, sanga lazim menamakan satu-satunya VAX pada setiap institusi, dengan akhiran “VAX”. Contohnya: UCBVAX (Universitas Berkley), UNRVAX (Universitas Nevada Reno), DECVAX (DEC), ROSEVAX (Rosemount Inc), MCVAX (Amsterdam). Sistem ini pun kembali menghasilkan puluhan sarjana S1 UI untuk berbagai penelitian seperti rancangan VLSI, X.400, dan sejenisnya.

Untuk mewadahi para pengguna dan penggemar UNIX yang mulai berkembang ini, dibentuk sebuah Kelompok Pengguna Unix (Unix Users Group) yaitu INDONIX. Kelompok yang dimotori oleh bapak “Didik” Partono Rudiarto (kini pimpinan INIXINDO) ini melakukan pertemuan secara teratur setiap bulan. Setiap pertemuan ini akan diisi dengan ceramah kiat dan trik UNIX, serta sebuah diskusi/ tanya-jawab.

Komputer mini — yang UNIX mau pun yang bukan — dominan hingga pertengahan tahun 1980-an. Komputer Personal (PC) masih sangat terbatas, baik kemampuannya, mau pun populasinya. Bahkan hingga akhir 1980-an, PC masih dapat dikatakan merupakan benda “langka” dan “mewah”. Semenjak pertengahan 1980-an, muncul sistem komputer “super-mikro” berbasis prosesor Motorola MC68000 dan sistem operasi Unix. Sejalan dengan ini, juga muncul PC/AT berbasis prosesor Intel 80286 dan 80386 dengan sistem operasi XENIX/SCO UNIX.

Kehadiran prosesor Intel 80286 (lalu 80386) telah mendorong pengembangan sistem operasi dengan nama “XENIX”. Harga sistem yang relatif murah, berakibat kenaikan populasi sistem Unix yang cukup signifikan di Indonesia. Aplikasi yang populer untuk sistem ini ialah sistem basis data Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

Pada awalnya, setiap sistem operasi Unix dilengkapi dengan kode sumber (source code). Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk negara non-US (terutama non Eropa) akibat regulasi ekspor US. Sebagai alternatif Prof. Andrew S. Tanenbaum dari VU (Belanda) mengedarkan sebuah sistem Operasi sederhana dengan nama “MINIX” (Mini Unix). Titik berat arah pengembangan MINIX ialah sesederhana mungkin agar dapat dipelajari dengan mudah dalam satu semester. Program Studi Ilmu Komputer Universitas Indonesia, tercatat pernah membeli source code MINIX dua kali, yaitu versi 1.2 (1987) dan versi 1.5 (1999).

Sebagai penunjang mata kuliah Sistem Operasi, telah hadir MINIX (Mini Unix) yang bahkan dapat dijalankan pada PC biasa tanpa HardDisk! Namun, MINIX memiliki dua keterbatasan bawaan. Pertama, dititik-beratkan agar mudah dipelajari untuk keperluan pendidikan. Akibatnya, dengan sengaja tidak dibuat canggih dan rumit. Kedua, (pada awalnya) MINIX harus dibeli dengan harga lebih dari USD 100 per paket. Harga ini tidak dapat dikatakan murah bahkan untuk ukuran kantong mahasiswa di luar negeri. Namun, MINIX telah digunakan di Program Studi Ilmu Komputer Universitas Indonesia FUSILKOM UI, FakUltas ILmu KOMputer UI) sebagai bagian dari kuliah sistem operasi menjelang akhir tahun 1990an.

Besar kemungkinan, siapa pun pengguna MINIX saat itu (termasuk penulis), pernah memiliki angan-angan untuk merancang sebuah kernel “idaman” pengganti MINIX yang dapat — “dioprek”, “dipercanggih”, dan “didistribusikan” — secara bebas. Tidak heran, Linus B. Torvalds mendapat sambutan hangat ketika tahun 1991 mengumumkan kehadiran sebuah kernel “idaman” melalui buletin USENET News “comp.os.minix”. Kernel ini kemudian lebih dikenal dengan nama Linux. Namun, Linux tidak langsung mendapatkan perhatian di UI.

Era 1990an

Belum jelas, siapa yang pertama kali membawa Linux ke Indonesia. Namun, yang pertama kali mengumumkan secara publik (melalui milis pau-mikro) ialah Paulus Suryono Adisoemarta dari Texas, USA, yang secara akrab dipanggil Bung Yono. Ketika 1992, bung Yono berkunjung ke Indonesia membawa distro SoftLanding System (SLS) dalam beberapa keping disket. Kernel Linux pada distro tersebut masih revisi 0.9X (alpha testing), dengan kemampuan dukungan jaringan yang sangat terbatas. Pada awal tahun 1990-an, kisaran harga sebuah ethernet board ialah USD 500; padahal dengan kinerja yang jauh dibawah board yang sekarang biasa berharga USD 5.-. Dengan harga semahal itu, dapat dimaklumi, jika masih jarang ada pengembang LINUX yang berkesempatan untuk mengembangkan driver ethernet.

Perioda 1992-1994 merupakan masa yang vakum. Secara sporadis, terdengar ada yang mendiskusikan “Linux”, namun terbatas pada uji coba. Kernel Linux 1.0 keluar pada tahun 1994. Salah satu distro yang masuk ke Indonesia pada tahun tersebut ialah Slackware (kernel 1.0.. Distro tersebut cukup lengkap dan stabil sehingga merangsang tumbuhnya sebuah komunitas GNU/ Linux di lingkungan Universitas Indonesia. Pada umumnya, PC menggunakan prosesor 386 dan 486, dengan memori antara 4-8 Mbytes, dan hardisk 40 – 100 Mbyte. Biasanya hardisk tersebut dibuat “dual boot”, yaitu dapat dalam mode DOS atau pun Linux.

Slackware menjadi populer dikalangan para mahasiswa UI, karena pada waktu itu merupakan satu-satunya distribusi yang ada . Banyak hal-hal baru yang “dioprek”/ “setup”. Umpama: yang pertama kali men-setup X11R4 Linux di UI ialah Ivan S. Chandra (1994).

Tahun 1994 merupakan tahun penuh berkah. Tiga penyelenggara Internet sekali gus mulai beroperasi: IPTEKnet, INDOnet, dan RADnet. Pada tahun berikutnya (1995), telah tercatat beberapa institusi/ organisasi mulai mengoperasikan GNU/Linux sebagai “production system”, seperti BPPT (mimo.bppt.go.id), IndoInternet (kakitiga.indo.net.id), Sustainable Development Network (www.sdn.or.id) dan sangam.sdn.or.id), dan Universitas Indonesia (haur.cs.ui.ac.id). Umpamanya, Sustainable Development Network Indonesia (sekarang diubah menjadi Sustainable Debian Network) menggunakan distribusi Slackware (kernel 1.0.9) pada mesin 486 33Mhz, 16 Mbyte RAM, 1 Gbyte disk. Namun sekarang, situs tersebut numpang webhost di IndoInternet.

Kehadiran internet di Indonesia merangsang tumbuhnya sebuah industri baru, yang dimotori oleh para enterpreneur muda. Mengingat GNU/ Linux merupakan salah satu pendukung dari Industri baru tersebut, tidak dapat disangkal bahwa ini merupakan faktor yang cukup menentukan perkembangan GNU/Linux di Indonesia. Selama perioda 1995-1997, GNU/Linux secara perlahan mulai menyebar ke seluruh pelosok Indonesia. Bahkan krismon 1997 pun tidak dapat menghentikan penyebaran ini.

Pada tahun 1996, pernah ada sebuah milis linux yang dapat dikatakan kurang begitu sukses. Anggota dari milis tersebut ialah:

Sl1zr@cc.usu- and1@indo.net- arwiya@indo.net- bjs@apoll.geologie- budi@cool.mb- chairilk@indo.net- harry@futaba.nagaokaut- herkusut@soziologie- ibrahim@indovax- idarmadi@indo.net- jimmyt@turtle- jonathan@bandung.wasantara- louis@Glue- mermaid+@CMU- mwiryana@netbox- rheza@indo.net- rosadi@indo.net- sentiono@cycor- trabas@indo.net- wibowo@hpsglsn- wiwit@bandung.wasantara- edybs@jakarta.wasantara- ssurya@elang- dhie@bandung.wasantara- tanu@m-net.arbornet- avinanta@gdarma- pink@cbn.net- louis@webindonesia-

Sebelum 1997, issuenya mungkin “Apa itu Linux?” untungnya, dewasa ini, yang terjadi malah sebaliknya: “Anda belum kenal Linux?????” Demikian sekilas perkembangan sistem UNIX sebelum 1997. Mudah-mudahan, ini akan memicu para pelaku IT lainnya untuk melengkapi hikayat ini, terutama pasca 1997