Pemanfaatan IT — Solusi untuk Masalah Distribusi

Manajemen Transportasi bertujuan untuk memberikan cara yang optimal untuk mendistribusikan sumber yang dimiliki ke lokasi / demand berasal. Jika membicarakan transportasi maka akan berkaitan dengan masalah distribusi. Distribusi harus diatur dengan baik sehingga operasional akan menjadi efektif. Efektivitas operasional akan memberikan efisiensi bagi perusahaan yang nantinya mampu menekan biaya sehingga akan berpengaruh dalam menciptakan competitive product.

Pemborosan di transportasi umumnya terdapat pada pos-pos berikut :

1.  Penggunaan BBM (Bahan Bakar Minyak)

2.  Maintenance Kendaraan

3.  Driver (Overtime)

4. Penyalahgunaan kendaraan perusahaan

5. Pengoperasian Kendaraan yang tidak baik

Jika di asumsikan perusahaan menggunakan 10 orang driver dengan gaji per jam Rp.10.000 dan Jam kerja perhari adalah 8 jam (masuk jam 8.00 , break makan siang jam 12.00 s/d jam 13.00 kembali bekerja pada 13.00 sampai 17.00) maka biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan adalah seperti berikut :

Jumlah Driver 10
Jumlah Driver 10
Gaji per Jam Rp. 10.000
Jam Kerja / hari 8
Biaya perhari Rp.800.000
Biaya pe Bulan Rp. 24.800.000
Biaya per Tahun Rp. 288.600.000

Tapi sebenarnya tidaklah demikian. Walaupun dalam timesheet Driver jam kerja satu hari 8 jam full kenyataannya driver beroperasi jam 08.30, dilanjutkan break makan siang 12.00 s.d 13.30. Kembali bekerja pada 13.30 s/d 16.30. Jam efektif umumnya adalah 6.5 jam. Seharusnya pengeluaran perusahaan adalah seperti berikut :

Jumlah Driver 10
Jumlah Driver 10
Gaji per Jam 10.000
Jam Kerja per hari 6.5
Biaya perhari Rp. 650.000
Biaya pe Bulan Rp. 19.500.000
Biaya per Tahun Rp. 234.800.000

Terdapat inefisiensi 18,74 %. Bayangkan jika armada dan driver yang dimiliki 100 unit, 1000 unit, atau 10.000 unit. Berapa besar kerugian yang dialami oleh perusahaan.

Jika di lihat dari pemakaian BBM. Tetap dengan asumsi 10 unit kendaraan dengan capaian KM perbulan rata-rata adalah 2.500 dan asumsi pemakaian BBM adalah Rp.1000/Km. maka kita akan mendapatkan perhitungan biaya seperti berikut :

Jumlah Driver 10
KM per month/driver 2500
Biaya bensin / Km Rp.1000
Biaya per Bulan Rp.25.000.000
Biaya pe Tahun Rp.300.000.000

Biaya tersebut dapat ditekan dengan mengetahui jalur atau rute yang dilalui oleh kendaraan. Jalur yang efektif akan dapat mengurangi jumlah pemakaian KM setiap bulannya dengan tetap berorientasi pada hasil pencapaian yang sama. Routing yang benar akan mampu memperbaiki jalur yang ditempuh dalam distribusi. Dan 10 % biaya BBM akan dapat ditekan.

Teknologi Informasi dengan Automated Vehichle Tracing System mengatasi masalah Fleet Management..

Teknologi Informasi adalah solusi untuk mendapatkan efisiensi dan efektivitas operasional distribusi. Teknologi ini mensinergikan antara GIS (Geographic Information System), GPS (Global Positioning System) dan Cellular Teknology (GSM).

Bagaimana Cara Kerjanya

AVTS

Perangkat GPS Tracking di pasang di kendaraan. Perangkat ini berfungsi menerima sinyal satelite GPS untuk mendapatkan lokasi (x,y) di permukaan bumi. Data lokasi (x,y) ini ditransmisikan melalui teknologi GSM ke Server Sistem Pelacak. Di server data lokasi ini di proses di tampilkan kedalam peta digital dan dengan kemampuan GIS (Geographic Information System) dalam dilakukan analisa-analisa lokasi. Data-data lokasi dan informasi lainya dapat di integrasi menjadi sistem yang sangat powerfull dalam menunjang keputusan management. Beberapa kemampuan analisa diantaranya :

1. Analisa zoning / wilayah : mengetahui seberapa banyak frequensi demand per wilayah tertentu.

2. Analisa Delivery : dengan routing modul dapat menganalisa waktu yang diperlukan untuk mencapai lokasi tertentu.

3. Analisa performance driver : merekam semua kegiatan dan aktivitas driver, jalur yang dilalui, waktu perjalanan, kecepatan berkendaraan, dll.

4. Analisa layering, dll.

Webtrace1

Selain dari fungsi-fungsi standart Tracking :

1. Emergnecy alert (Keamanan Kendaraan dan driver)

2. Feofencing (Zoning wilayah yang dilalui : Inside, Outside, Enter, Exit)

3. Meremote control mesin kendaraan, alarm kendaraan, bensin, central lock, dll.

4. Waktu dan Kecepatan berkendaraan.

Kesimpulan

IT merupakan tantangan bagi perkembangan teknologi transportasi kedepannya. Implementasi IT akan memberikan efisiensi dan efektifitas operasional  pada manajemen transportasi.

Klik sini untuk download Slide

GPS Performance Standard Document Updated

The National Executive Committee for Space-Based Positioning, Navigation, and Timing (PNT) has released an updated civil GPS Standard Positioning Service Performance Standard, committing the United States Department of Defense (DoD) to an improved level of GPS accuracy for civilian signals.

It is the fourth revision of the standard positioning service (SPS) performance standards document, and the first update since October 2001. In addition to specifying GPS minimum performance commitments, the SPS performance standard serves as a technical document designed to complement the GPS Signal in Space (SIS) Interface Specification.
The most significant change in the updated SPS standards is a 33 percent improvement in the minimum level of SIS range accuracy, from 6 meters root mean square (rms) accuracy to 4 meters rms (7.8 meters, 95 percent), according to the document, which is drafted by the DoD and released through the PNT committee.

Other notable changes are the addition of minimum levels of SIS range velocity accuracy and range acceleration accuracy, which were unspecified in the previous version of the SPS performance standard. The updated document also introduces a definition for an “expandable 24-slot” GPS constellation with more than 24 satellites, although the baseline 24-slot GPS constellation definition remains unchanged from the previous version of the SPS performance document.

While the stated dedication to improvement is notable, it has a built-in conservative margin for minimum performance; as the documents authors note in the executive summary: “with current (2007) SIS accuracy, well designed GPS receivers have been achieving horizontal accuracy of 3 meters or better and vertical accuracy of 5 meters or better, 95 percent of the time.”
One notable item missing from the updated document is a commitment to semicodeless GPS access. This isn’t a surprise, as the U.S. Department of Defense (DoD) published a notice in the Federal Register Tuesday, September 23, stating that it will cease to support codeless/semi-codeless GPS access as of December 31, 2020. Prior to that, on May 16, the U.S. Dept. of Commerce’s (DoC) Office of Space Commercialization first issued a Notice for Public Comment on the DoD proposal to discontinue supporting P(Y) codeless/semicodeless on both GPS L1 and L2 frequencies broadcast from modernized satellites (Block IIR-M, Block IIF and Block IIIA/B/C) beginning December 31, 2020.

The SPS document only addresses the L1 GPS signal. Although three new modernized civil signals will be available in the future, L2C, L5, and L1C, the performance specifications in this version of the SPS apply only to the L1 C/A signal, since this is the only civil GPS signal that is currently fully operational, the SPS authors noted. (Sumber GPS World)

bahasan – ITS(Intelligent Transportation System) di Indonesia, sejauh manakah ?

Saya menerima e-mail dari Jerman, sahabat seorang Mahasiswa Indonesia yang melakukan studi ITS (intelligent transportation system), berikut kutipan pembahasannya :

TANYA

Inbox X

achmad zacky

to me, denny_charter, denny_charter

show details Jun 1 (4 days ago)
Reply
Follow up message
salam kenal mas denny

saya achmad zacky ambadar
sekarang sedang studi S2 di Jerman dan sedang melakukan analisis mengenai pengembangan ITS (intelligence transport system) di indonesia
saya tertarik dengan tulisan mas denny di :

https://dennycharter.wordpress.com/2008/07/26/intelligent-transportation-system-its/

saya ingin berdiskusi dengan mas denny mengenai hal ini

terima kasih
Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY

Reply
Reply to all
Forward
Denny Charter
Salam kenal juga mas zacky, Kebetulan di Indonesia saat ini memang sedang men…
Jun 1 (4 days ago)
Denny CharterLoading…
Jun 1 (4 days ago)

Denny Charter

to achmad

show details Jun 1 (4 days ago)
Reply
Follow up message
Salam kenal juga mas zacky,
Kebetulan di Indonesia saat ini memang sedang mengembangan ITS. Saya pernah di undang rapat beberapa bulan lalu oleh Departemen Perhubungan hanya saja sampai saat ini kelanjutannya masih belum jelas. Eropa kan sudah implementasi ITS dari situ mungkin bisa diambil perbandingan untuk implementasinya di Indonesia. Saya senang jika dapat berdiskusi dengan mas Zacky terutama untuk implementasi ITS di Indonesia.

Regards

Denny Charter

2009/6/1 achmad zacky <zacky_154@yahoo.com>

– Show quoted text –
salam kenal mas denny

saya achmad zacky ambadar
sekarang sedang studi S2 di Jerman dan sedang melakukan analisis mengenai pengembangan ITS (intelligence transport system) di indonesia
saya tertarik dengan tulisan mas denny di :

https://dennycharter.wordpress.com/2008/07/26/intelligent-transportation-system-its/

saya ingin berdiskusi dengan mas denny mengenai hal ini

terima kasih
Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY


Charter

Reply
Forward
achmad zacky
salam mas denny saya sekarang kuliah Transportation System. sebelum melanjutk…
Jun 1 (3 days ago)
achmad zackyLoading…
Jun 1 (3 days ago)

achmad zacky

to me

show details Jun 1 (3 days ago)
Reply
Follow up message
salam mas denny

saya sekarang kuliah Transportation System. sebelum melanjutkan kuliah disini, selama 3 tahun saya berkecimpung di dunia konsultan penataan ruang dan banyak menggunakan aplikasi GIS menggunakan ArcGIS 9.x
saya melihat biografi mas Denny sebagai seorang ahli IT (menurut pendapat saya) dan sedang bergerak di bidang pengembangan hardware untuk mendukung ITS

sebetulnya tugas saya disini sederhana, Perbandingan Model ITS di setiap negara terutama negara berkembang dan karena saya berasal dari Indonesia, saya diberi tugas untuk menyajikan permasalahan ITS di Indonesia. tugas ini sebagai bentuk nyata di lapangan dan aplikasi dari teori-teori yang diberikan di kelas

berikut telaahan saya (mohon masukannya dari mas Denny) :
sejujurnya, sepanjang pengetahuan saya, ITS di Indonesia belum sepenuhnya diaplikasikan
di Bandung mungkin pernah dicoba untuk menerepakan ATCS (Area Traffic Control System) yang dikelola Polwiltabes bekerjasama dengan Dishub, namun gaungnya hanya di awal saja dan nampaknya belum begitu optimal. sistem intergreen time juga belum dinamis sesuai dengan kondisi lalulintas dan akibatnya adalah kemacetan yang masih terjadi (saya tidak membahas perilaku sosial dan gangguan samping)

di jalan tol yang seharusnya merupakan garda terdepan dari ITS juga belum optimal (kalau tidak disebut belum ada). sistem buka tutup toll gate masih mengandalkan sistem manual (HT – Handy Talky), kemudian informasi kemacetan juga belum menggunakan sensor
informasi kemacetan di jalan tol juga “hanya” sebatas angka-angka dan panjang antrian. belum ada penerapan sebuah sistem yang terintegrasi dengan GIS yang memungkinkan rerouting kendaraan
rambu dan marka jalan tol juga masih berupa statis tool, bukan dinamis yang bisa berubah sesuai dengan kondisi lalulintas

kasus BRT moda Busway yang dikelola TransJakarta : timetable belum terintegrasi dengan ITS sehingga penumpang tidak bisa mengetahui secara online kedatangan dan keberangkatan bus

pada taksi : di beberapa taksi mungkin sudah memasang GPS. tapi pemasangan hanya dilakukan internal perusahaan untuk mengetahui posisi taksi sehingga bisa menjangkau permintaan penumpang. GPS ini tidak bisa menghasilkan floating data yang akurat dan reliable yang dikelola oleh “lembaga” lalulintas (dephub atau polisi mungkin, red) yang terintegrasi dengan GIS sehingga bisa menghasilkan informasi lalulintas yang akurat

untuk pengembangan software dan hardware ITS, saya belum memiliki informasi banyak dan saya mohon mas Denny bisa berbagi informasi untuk saya

sekian dulu analisis mentah saya
saya mohon mas Denny bisa memberi masukan lebih
jangan segan untuk kritik mas kalau analisis saya ada yang tidak berkenan. disini saya sudah terbiasa dengan pola pikir orang sini yang to the point dan tanpa basa-basi

Terima Kasih

Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY


Reply
Forward
Denny Charter
Salam Mas Zacky. Menurut pengalaman saya dilapangan karena saya praktisi… A…
Jun 2 (2 days ago)
Denny CharterLoading…
Jun 2 (2 days ago)

Denny Charter

to achmad

show details Jun 2 (2 days ago)
Reply
Follow up message
Salam Mas Zacky.

Menurut pengalaman saya dilapangan karena saya praktisi… Ada beberapa hal yang menyebabkan ITS di Indonesia berjalan tersendat-sendat :
1. Seperti yang telah mas Zacky jelaskan kalo pengembangan ITS di Indonesia dilakukan sendiri-sendiri. Seharusnya ada sebuah Raodmap Nasional mengenai implementasi ITS di Indonesia.
2. Belum adanya stadarisasi ITS seperti di Jepang dan Eropa. Sepengetahuan saya, Indonesia masih bingung untuk hal ini. Ngikut Eropa atau ngikut Jepang. Saya pernah duduk bareng team ITS dari Departemen Perhubungan. Membahas standarisasi ITS Indonesia. Acuannya sebenarnya mengarah ke Jepang salah satu alasannya karena kendaraan2 di Indonesia banyak berasal dari Jepang.
3. Butuh good father yang baik untuk itu. Implementasi ITS di Jepang di sponsori oleh perusahaan-perusahaan otomotif terkemuka. sedangkan di Indonesia sulit mencari Good Father yang baik yang bisa memacu menjalankan ITS dan yang jelas mendanai proyek tersebut. Kalau dana dari Pemerintah… sampai saat ini belum ada …hehehehe..
4. Kondisi Geografi Indonesia juga jadi kendala untuk mendapatkan ITS yang punya standar sama. Kesulitannya mulai dari SDM, sampai membangun infrastruktur di daerah.
5. Budaya. Budaya di Indonesia yang agak kampungan mungkin juga salah satu faktor sulitnya ITS di Indonesia.

Itu dulu dari saya… nanti saya lanjutkan diskusinya… menarik.. (masih di kantor soalnya)

Regards

Denny Charter

2009/6/1 achmad zacky <zacky_154@yahoo.com>
salam mas denny

– Show quoted text –

saya sekarang kuliah Transportation System. sebelum melanjutkan kuliah disini, selama 3 tahun saya berkecimpung di dunia konsultan penataan ruang dan banyak menggunakan aplikasi GIS menggunakan ArcGIS 9.x
saya melihat biografi mas Denny sebagai seorang ahli IT (menurut pendapat saya) dan sedang bergerak di bidang pengembangan hardware untuk mendukung ITS

sebetulnya tugas saya disini sederhana, Perbandingan Model ITS di setiap negara terutama negara berkembang dan karena saya berasal dari Indonesia, saya diberi tugas untuk menyajikan permasalahan ITS di Indonesia. tugas ini sebagai bentuk nyata di lapangan dan aplikasi dari teori-teori yang diberikan di kelas

berikut telaahan saya (mohon masukannya dari mas Denny) :
sejujurnya, sepanjang pengetahuan saya, ITS di Indonesia belum sepenuhnya diaplikasikan
di Bandung mungkin pernah dicoba untuk menerepakan ATCS (Area Traffic Control System) yang dikelola Polwiltabes bekerjasama dengan Dishub, namun gaungnya hanya di awal saja dan nampaknya belum begitu optimal. sistem intergreen time juga belum dinamis sesuai dengan kondisi lalulintas dan akibatnya adalah kemacetan yang masih terjadi (saya tidak membahas perilaku sosial dan gangguan samping)

di jalan tol yang seharusnya merupakan garda terdepan dari ITS juga belum optimal (kalau tidak disebut belum ada). sistem buka tutup toll gate masih mengandalkan sistem manual (HT – Handy Talky), kemudian informasi kemacetan juga belum menggunakan sensor
informasi kemacetan di jalan tol juga “hanya” sebatas angka-angka dan panjang antrian. belum ada penerapan sebuah sistem yang terintegrasi dengan GIS yang memungkinkan rerouting kendaraan
rambu dan marka jalan tol juga masih berupa statis tool, bukan dinamis yang bisa berubah sesuai dengan kondisi lalulintas

kasus BRT moda Busway yang dikelola TransJakarta : timetable belum terintegrasi dengan ITS sehingga penumpang tidak bisa mengetahui secara online kedatangan dan keberangkatan bus

pada taksi : di beberapa taksi mungkin sudah memasang GPS. tapi pemasangan hanya dilakukan internal perusahaan untuk mengetahui posisi taksi sehingga bisa menjangkau permintaan penumpang. GPS ini tidak bisa menghasilkan floating data yang akurat dan reliable yang dikelola oleh “lembaga” lalulintas (dephub atau polisi mungkin, red) yang terintegrasi dengan GIS sehingga bisa menghasilkan informasi lalulintas yang akurat

untuk pengembangan software dan hardware ITS, saya belum memiliki informasi banyak dan saya mohon mas Denny bisa berbagi informasi untuk saya

sekian dulu analisis mentah saya
saya mohon mas Denny bisa memberi masukan lebih
jangan segan untuk kritik mas kalau analisis saya ada yang tidak berkenan. disini saya sudah terbiasa dengan pola pikir orang sini yang to the point dan tanpa basa-basi

Terima Kasih

Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY



Charter

Reply
Forward
achmad zacky
Halo mas Denny komentar yang sangat bagus apa yang diungkapkan oleh mas Denny…
Jun 3 (1 day ago)
achmad zackyLoading…
Jun 3 (1 day ago)

achmad zacky

to me

show details Jun 3 (1 day ago)
Reply
Follow up message
Halo mas Denny

komentar yang sangat bagus
apa yang diungkapkan oleh mas Denny memang sangat menggambarkan kondisi nyata di indonesia hehehe
terutama jika memang saya bandingkan langsung dengan kondisi di sini

berikut saya attach model yang telah diterapkan disini. mungkin bisa menjadi inspirasi mas Denny dan juga pemerintah indonesia pada umumnya untuk pengembangan ITS ke depan

sumber : http://www.bmvbs.de/en/Transport/Mobility-and-Technology-,1902.962964/Telematics-in-transport.htm
http://www.bremicker-vt.de/dokumente/prospekte/wvz_prospekt.pdf?d6603cc67b24a9d0f8835a1c1806842d=9042a658d63a90349a8cab622feec7bf

kemudian yang menjadi pertanyaan atau bahkan renungan saya sekarang :
konsep atau model apa yang telah diterapkan di indonesia (atau jakarta pada khususnya sebagai ibu kota negara)
mungkin tidak perlu yang serumit atau terintegrasi seperti di negara maju
contoh sederhana, apakah di rambu di jalan tol telah menerapkan sistem dinamis dengan pantauan CCTV
contoh lain adalah pengintegrasian sistem angkutan umum yang memungkinkan pengguna memperkirakan lama perjalanan seperti di link berikut : http://www.mvv-muenchen.de/

terima kasih

Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY


From: Denny Charter <dennycharter@gmail.com>
To: achmad zacky <zacky_154@yahoo.com>
Sent: Tuesday, June 2, 2009 12:53:19 PM
Subject: Re: TANYA

Salam Mas Zacky.

Menurut pengalaman saya dilapangan karena saya praktisi… Ada beberapa hal yang menyebabkan ITS di Indonesia berjalan tersendat-sendat :
1. Seperti yang telah mas Zacky jelaskan kalo pengembangan ITS di Indonesia dilakukan sendiri-sendiri. Seharusnya ada sebuah Raodmap Nasional mengenai implementasi ITS di Indonesia.
2. Belum adanya stadarisasi ITS seperti di Jepang dan Eropa. Sepengetahuan saya, Indonesia masih bingung untuk hal ini. Ngikut Eropa atau ngikut Jepang. Saya pernah duduk bareng team ITS dari Departemen Perhubungan. Membahas standarisasi ITS Indonesia. Acuannya sebenarnya mengarah ke Jepang salah satu alasannya karena kendaraan2 di Indonesia banyak berasal dari Jepang.
3. Butuh good father yang baik untuk itu. Implementasi ITS di Jepang di sponsori oleh perusahaan-perusahaan otomotif terkemuka. sedangkan di Indonesia sulit mencari Good Father yang baik yang bisa memacu menjalankan ITS dan yang jelas mendanai proyek tersebut. Kalau dana dari Pemerintah… sampai saat ini belum ada …hehehehe..
4. Kondisi Geografi Indonesia juga jadi kendala untuk mendapatkan ITS yang punya standar sama. Kesulitannya mulai dari SDM, sampai membangun infrastruktur di daerah.
5. Budaya. Budaya di Indonesia yang agak kampungan mungkin juga salah satu faktor sulitnya ITS di Indonesia.

Itu dulu dari saya… nanti saya lanjutkan diskusinya… menarik.. (masih di kantor soalnya)

Regards

Denny Charter


Charter

Reply
Forward

Denny Charter

to achmad

show details 11:37 PM (13 hours ago)
Reply
Follow up message

Dear mas Zacky.

Setelah membaca-baca file2 dari mas Zacky (walau terbata-bata pake bhs
Jerman soalnya) 🙂  Saya terkagum-kagum dengan ITS disana…Bermimpi
suatu saat di Indonesia bisa seperti itu…cuma Saya yakin suatu saat
Indonesia Bisa…

Untuk konsep penerapan di Jakarta dan Indonesia saya nggak bisa
komentar banyak. Soalnya temen2 di pemerintahan yang jelas lebih tahu.
Saya berniat mempublish diskusi kita ini di Blog berharap pemerintah
membaca diskusi kita ini (nggak ngarap banget pastinya 🙂 ) .
Sepengetahuan saya dan pengamatan saya di Jakarta saat ini baru Busway
yang sudah berjalan walaupun sebenarnya masih jauh dari sempurna.
Karena dikota aslinya infrastruktur Busway dibangun tersendiri. Kalau
di Jakarta terkesan dipaksakan. Jalur Busway mengambil paksa jalur
jalan umum akibatnya terjadi penyempitan dan kemacetan dibeberapa
titik menjadi tambah parah. Mungkin untuk perkembangan infrastruktur
transfortasi di Jakarta sebagai referensi bisa di lihat di forum ini :
http://forum.otomotifnet.com/forum/showthread.php?t=202

Sejak bergema nya ‘Busway’ di Jakarta, di daerah juga tidak
ketinggalan. Beberapa daerah di Indonesia mengembangkan sistem yang
serupa seperti di Bogor ada Trans Pakuan, atau di Palembang dengan
Trans Musi.

Untuk pemanfaatan CCTV dinamis dan terintegrasi saya rasa belum…
mungkin iya dibeberapa lokasi ada yang sudah menggunakan CCTV cuma
sepertinya statis.  Apa lagi sistem angkutan umum yang memungkinkan
pengguna memperkirakan lamanya perjalanan saya rasa belum ada yang di
implementasikan dengan baik. Saya pernah membicarakan hal tersebut
dengan teman2 lainnya yang juga konsen pada pengembangan software
transportasi seperti Bpk. Anan Hartanto dari Semarang
(www.inotrans.com). Mengintegrasikan antara Sistem Pelacakan kendaraan
berbasis GPS dan GIS dengan applikasi eTicketing Transportasi sehingga
penumpang bisa mengetahui kapan kendaraan datang, waktu tempuh dan
informasi lainnya.

Resource di Indonesia sebenarnya punya potensi cuma sangat disayangkan
karena pemerintah kurang memberdayakannya… Sekian dulu…Terima
Kasih.

Regards

Denny Charter