Extensible Markup Language (XML)

Extensible XML

Apakah XML ? XML bukanlah bahasa pemrograman seperti Java, C, atau Pascal karena XML tidak bisa digunakan untuk membuat sebuah applikasi. XML adalah meta language yang dapat digunakan untuk membuat modular dokumen (data), dan program. Dokumen ini sering dipergunakan sebagai media pertukaran data diantara sistem yang tidak saling kompatibel. Contoh dari grammar XML adalah WML (wireless markup languange) sebuah bahasa yang populer untuk pengembangan applikasi wireless).

Worldwide Web Consortium (W3C) merupakan sebuah lembaga standar internasional yang memulai proses standarisasi XML di pertengahan tahun 1996 dan me released XML 1.0 pada tahun 1998. XML terinspirasi dari Standart Generalized Markup Languange (SGML) namun dalam beberapa hal justru XML menjadi lebih sederhana dan mudah dipahami.

XML Syntax

Sebagai bahasa markup, XML menggunakan tag untuk menggambarkan informasi seperti berikut :

<?xml version=”1.0″ encoding=”UTF-8″?>
<Order>
<Customer>
<name>Denny Charter</name>
<street>Siringo-ringo</street>
<city>Rantauprapat</city>
<state>SUMUT</state>
<zip>21412</zip>
</Customer>
</Order>

Tag dituliskan dengan tanda kurung besar ( < > ) merupakan label atau gambaran dari sebuah data yang mengikuti (seperti street) yang disebut dengan element (contoh element street adalah Siringo-ringo). Elemen diakhiri dengan tanda slash ( / ) yang di tuliskan di akhir elemen. Pada contoh diatas elemen Siringo-ringo ditutup dengan tag </street>.

Elemen pertama dari contoh diatas menunjukkan bahwa dokumen tersebut adalah dokumen XML. Customer sebagai elemen utama memiliki child elemen lainnya yakni :

Denny Charter

Jalan Siringo-ringo

Rantauprapat

SUMUT

21412

Sebagai catatan bahwa XML sebagai bahasa text base bersifat case sensitif artinya membedakan inputan antara huruf besar dan huruf kecil. Hal ini bisa menjadi kelemahan dari XML karena dokumen XML menjadi lebih kompleks. Hal-hal lain dalam XML adalah :

  1. XML adalah extensbible. Tidak seperti HTML yang telah memiliki tag yang pasti, XML memungkinkan kita untuk mendefinisikan beberapa tag sendiri jika diperlukan. Pada contoh diatas dokumen tersebut mengambarkan Custumer namun juga dimasukan sebagai field untuk menggambarkan customer.

  2. XML adalah hierarchical. Elemen-elemen bisa saja memiliki subordinat dibawahnya. Sebagai contoh element Customer yang memiliki beberapa child element.

  3. XML adalah modular. XML dapat dikembangkan secara modular dengan memungkinkan sebuah dokumen untuk mereference dokumen lainnya.

  4. XML adalah bahasa pemrograman independent.

  5. XML menggunakan DTD (Document Type Definitions) dan XML skema. Validasi data pada XML menggunakan kedua konsep tersebut.

XML Parser

Untuk memproses dokumen XML dibutuhkan XML parser yakni sebuah program yang mampu melakukan decompose dokumen XML menjadi individual elemen. Ada dua kategori utama dari XML parser yakni Document Object Model (DOM) dan Simple API for XML (SAX).

DOM adalah language neutral API untuk mengakses dan memodifikasi dokumen yang bercabang-cabang (tree base) seperti dokumen HTML dan XML, DOM parser bekerja pada memory. Sedangkan SAX parser adalah parser event base yang hanya digunakan untuk membaca dokumen XML. SAX bekerja dari registrasi event. SAX sebenarnya bekerja lebih sederhana dibandingkan dengan DOM hanya saja memiliki beberapa kekurangan yakni :

  1. Ketika dokumen XML dibaca maka tidak ada representasi dokumen di memory.

  2. SAX parser tidak mampu melakukan modifikasi dokumen XML.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s