bahasan – ITS(Intelligent Transportation System) di Indonesia, sejauh manakah ?
Saya menerima e-mail dari Jerman, sahabat seorang Mahasiswa Indonesia yang melakukan studi ITS (intelligent transportation system), berikut kutipan pembahasannya :
TANYA
Inbox
X
|
show details Jun 1 (4 days ago)
|
|
saya achmad zacky ambadar
sekarang sedang studi S2 di Jerman dan sedang melakukan analisis mengenai pengembangan ITS (intelligence transport system) di indonesia
saya tertarik dengan tulisan mas denny di :
http://dennycharter.wordpress.com/2008/07/26/intelligent-transportation-system-its/
saya ingin berdiskusi dengan mas denny mengenai hal ini
terima kasih
Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY
Reply |
Reply to all |
Forward |

|
show details Jun 1 (4 days ago)
|
|
Kebetulan di Indonesia saat ini memang sedang mengembangan ITS. Saya pernah di undang rapat beberapa bulan lalu oleh Departemen Perhubungan hanya saja sampai saat ini kelanjutannya masih belum jelas. Eropa kan sudah implementasi ITS dari situ mungkin bisa diambil perbandingan untuk implementasinya di Indonesia. Saya senang jika dapat berdiskusi dengan mas Zacky terutama untuk implementasi ITS di Indonesia.
Regards
Denny Charter
salam kenal mas dennysaya achmad zacky ambadar
sekarang sedang studi S2 di Jerman dan sedang melakukan analisis mengenai pengembangan ITS (intelligence transport system) di indonesia
saya tertarik dengan tulisan mas denny di :http://dennycharter.wordpress.com/2008/07/26/intelligent-transportation-system-its/
saya ingin berdiskusi dengan mas denny mengenai hal ini
terima kasih
Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY
–
Charter
Reply |
Forward |

|
show details Jun 1 (3 days ago)
|
|
saya sekarang kuliah Transportation System. sebelum melanjutkan kuliah disini, selama 3 tahun saya berkecimpung di dunia konsultan penataan ruang dan banyak menggunakan aplikasi GIS menggunakan ArcGIS 9.x
saya melihat biografi mas Denny sebagai seorang ahli IT (menurut pendapat saya) dan sedang bergerak di bidang pengembangan hardware untuk mendukung ITS
sebetulnya tugas saya disini sederhana, Perbandingan Model ITS di setiap negara terutama negara berkembang dan karena saya berasal dari Indonesia, saya diberi tugas untuk menyajikan permasalahan ITS di Indonesia. tugas ini sebagai bentuk nyata di lapangan dan aplikasi dari teori-teori yang diberikan di kelas
berikut telaahan saya (mohon masukannya dari mas Denny) :
sejujurnya, sepanjang pengetahuan saya, ITS di Indonesia belum sepenuhnya diaplikasikan
di Bandung mungkin pernah dicoba untuk menerepakan ATCS (Area Traffic Control System) yang dikelola Polwiltabes bekerjasama dengan Dishub, namun gaungnya hanya di awal saja dan nampaknya belum begitu optimal. sistem intergreen time juga belum dinamis sesuai dengan kondisi lalulintas dan akibatnya adalah kemacetan yang masih terjadi (saya tidak membahas perilaku sosial dan gangguan samping)
di jalan tol yang seharusnya merupakan garda terdepan dari ITS juga belum optimal (kalau tidak disebut belum ada). sistem buka tutup toll gate masih mengandalkan sistem manual (HT – Handy Talky), kemudian informasi kemacetan juga belum menggunakan sensor
informasi kemacetan di jalan tol juga “hanya” sebatas angka-angka dan panjang antrian. belum ada penerapan sebuah sistem yang terintegrasi dengan GIS yang memungkinkan rerouting kendaraan
rambu dan marka jalan tol juga masih berupa statis tool, bukan dinamis yang bisa berubah sesuai dengan kondisi lalulintas
kasus BRT moda Busway yang dikelola TransJakarta : timetable belum terintegrasi dengan ITS sehingga penumpang tidak bisa mengetahui secara online kedatangan dan keberangkatan bus
pada taksi : di beberapa taksi mungkin sudah memasang GPS. tapi pemasangan hanya dilakukan internal perusahaan untuk mengetahui posisi taksi sehingga bisa menjangkau permintaan penumpang. GPS ini tidak bisa menghasilkan floating data yang akurat dan reliable yang dikelola oleh “lembaga” lalulintas (dephub atau polisi mungkin, red) yang terintegrasi dengan GIS sehingga bisa menghasilkan informasi lalulintas yang akurat
untuk pengembangan software dan hardware ITS, saya belum memiliki informasi banyak dan saya mohon mas Denny bisa berbagi informasi untuk saya
sekian dulu analisis mentah saya
saya mohon mas Denny bisa memberi masukan lebih
jangan segan untuk kritik mas kalau analisis saya ada yang tidak berkenan. disini saya sudah terbiasa dengan pola pikir orang sini yang to the point dan tanpa basa-basi
Terima Kasih
Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY
Reply |
Forward |

|
show details Jun 2 (2 days ago)
|
|
Menurut pengalaman saya dilapangan karena saya praktisi… Ada beberapa hal yang menyebabkan ITS di Indonesia berjalan tersendat-sendat :
1. Seperti yang telah mas Zacky jelaskan kalo pengembangan ITS di Indonesia dilakukan sendiri-sendiri. Seharusnya ada sebuah Raodmap Nasional mengenai implementasi ITS di Indonesia.
2. Belum adanya stadarisasi ITS seperti di Jepang dan Eropa. Sepengetahuan saya, Indonesia masih bingung untuk hal ini. Ngikut Eropa atau ngikut Jepang. Saya pernah duduk bareng team ITS dari Departemen Perhubungan. Membahas standarisasi ITS Indonesia. Acuannya sebenarnya mengarah ke Jepang salah satu alasannya karena kendaraan2 di Indonesia banyak berasal dari Jepang.
3. Butuh good father yang baik untuk itu. Implementasi ITS di Jepang di sponsori oleh perusahaan-perusahaan otomotif terkemuka. sedangkan di Indonesia sulit mencari Good Father yang baik yang bisa memacu menjalankan ITS dan yang jelas mendanai proyek tersebut. Kalau dana dari Pemerintah… sampai saat ini belum ada …hehehehe..
4. Kondisi Geografi Indonesia juga jadi kendala untuk mendapatkan ITS yang punya standar sama. Kesulitannya mulai dari SDM, sampai membangun infrastruktur di daerah.
5. Budaya. Budaya di Indonesia yang agak kampungan mungkin juga salah satu faktor sulitnya ITS di Indonesia.
Itu dulu dari saya… nanti saya lanjutkan diskusinya… menarik.. (masih di kantor soalnya)
Regards
Denny Charter
salam mas denny- Show quoted text -saya sekarang kuliah Transportation System. sebelum melanjutkan kuliah disini, selama 3 tahun saya berkecimpung di dunia konsultan penataan ruang dan banyak menggunakan aplikasi GIS menggunakan ArcGIS 9.x
saya melihat biografi mas Denny sebagai seorang ahli IT (menurut pendapat saya) dan sedang bergerak di bidang pengembangan hardware untuk mendukung ITSsebetulnya tugas saya disini sederhana, Perbandingan Model ITS di setiap negara terutama negara berkembang dan karena saya berasal dari Indonesia, saya diberi tugas untuk menyajikan permasalahan ITS di Indonesia. tugas ini sebagai bentuk nyata di lapangan dan aplikasi dari teori-teori yang diberikan di kelas
berikut telaahan saya (mohon masukannya dari mas Denny) :
sejujurnya, sepanjang pengetahuan saya, ITS di Indonesia belum sepenuhnya diaplikasikan
di Bandung mungkin pernah dicoba untuk menerepakan ATCS (Area Traffic Control System) yang dikelola Polwiltabes bekerjasama dengan Dishub, namun gaungnya hanya di awal saja dan nampaknya belum begitu optimal. sistem intergreen time juga belum dinamis sesuai dengan kondisi lalulintas dan akibatnya adalah kemacetan yang masih terjadi (saya tidak membahas perilaku sosial dan gangguan samping)di jalan tol yang seharusnya merupakan garda terdepan dari ITS juga belum optimal (kalau tidak disebut belum ada). sistem buka tutup toll gate masih mengandalkan sistem manual (HT – Handy Talky), kemudian informasi kemacetan juga belum menggunakan sensor
informasi kemacetan di jalan tol juga “hanya” sebatas angka-angka dan panjang antrian. belum ada penerapan sebuah sistem yang terintegrasi dengan GIS yang memungkinkan rerouting kendaraan
rambu dan marka jalan tol juga masih berupa statis tool, bukan dinamis yang bisa berubah sesuai dengan kondisi lalulintaskasus BRT moda Busway yang dikelola TransJakarta : timetable belum terintegrasi dengan ITS sehingga penumpang tidak bisa mengetahui secara online kedatangan dan keberangkatan bus
pada taksi : di beberapa taksi mungkin sudah memasang GPS. tapi pemasangan hanya dilakukan internal perusahaan untuk mengetahui posisi taksi sehingga bisa menjangkau permintaan penumpang. GPS ini tidak bisa menghasilkan floating data yang akurat dan reliable yang dikelola oleh “lembaga” lalulintas (dephub atau polisi mungkin, red) yang terintegrasi dengan GIS sehingga bisa menghasilkan informasi lalulintas yang akurat
untuk pengembangan software dan hardware ITS, saya belum memiliki informasi banyak dan saya mohon mas Denny bisa berbagi informasi untuk saya
sekian dulu analisis mentah saya
saya mohon mas Denny bisa memberi masukan lebih
jangan segan untuk kritik mas kalau analisis saya ada yang tidak berkenan. disini saya sudah terbiasa dengan pola pikir orang sini yang to the point dan tanpa basa-basiTerima Kasih
Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY
–
Charter
Reply |
Forward |

|
show details Jun 3 (1 day ago)
![]() |
|
komentar yang sangat bagus
apa yang diungkapkan oleh mas Denny memang sangat menggambarkan kondisi nyata di indonesia hehehe
terutama jika memang saya bandingkan langsung dengan kondisi di sini
berikut saya attach model yang telah diterapkan disini. mungkin bisa menjadi inspirasi mas Denny dan juga pemerintah indonesia pada umumnya untuk pengembangan ITS ke depan
sumber : http://www.bmvbs.de/en/Transport/Mobility-and-Technology-,1902.962964/Telematics-in-transport.htm
http://www.bremicker-vt.de/dokumente/prospekte/wvz_prospekt.pdf?d6603cc67b24a9d0f8835a1c1806842d=9042a658d63a90349a8cab622feec7bf
kemudian yang menjadi pertanyaan atau bahkan renungan saya sekarang :
konsep atau model apa yang telah diterapkan di indonesia (atau jakarta pada khususnya sebagai ibu kota negara)
mungkin tidak perlu yang serumit atau terintegrasi seperti di negara maju
contoh sederhana, apakah di rambu di jalan tol telah menerapkan sistem dinamis dengan pantauan CCTV
contoh lain adalah pengintegrasian sistem angkutan umum yang memungkinkan pengguna memperkirakan lama perjalanan seperti di link berikut : http://www.mvv-muenchen.de/
terima kasih
Achmad Zacky Ambadar
Heiglhofstraße 66, Room no. 124,
81377 München, GERMANY
From: Denny Charter <dennycharter@gmail.com>
To: achmad zacky <zacky_154@yahoo.com>
Sent: Tuesday, June 2, 2009 12:53:19 PM
Subject: Re: TANYA
Menurut pengalaman saya dilapangan karena saya praktisi… Ada beberapa hal yang menyebabkan ITS di Indonesia berjalan tersendat-sendat :
1. Seperti yang telah mas Zacky jelaskan kalo pengembangan ITS di Indonesia dilakukan sendiri-sendiri. Seharusnya ada sebuah Raodmap Nasional mengenai implementasi ITS di Indonesia.
2. Belum adanya stadarisasi ITS seperti di Jepang dan Eropa. Sepengetahuan saya, Indonesia masih bingung untuk hal ini. Ngikut Eropa atau ngikut Jepang. Saya pernah duduk bareng team ITS dari Departemen Perhubungan. Membahas standarisasi ITS Indonesia. Acuannya sebenarnya mengarah ke Jepang salah satu alasannya karena kendaraan2 di Indonesia banyak berasal dari Jepang.
3. Butuh good father yang baik untuk itu. Implementasi ITS di Jepang di sponsori oleh perusahaan-perusahaan otomotif terkemuka. sedangkan di Indonesia sulit mencari Good Father yang baik yang bisa memacu menjalankan ITS dan yang jelas mendanai proyek tersebut. Kalau dana dari Pemerintah… sampai saat ini belum ada …hehehehe..
4. Kondisi Geografi Indonesia juga jadi kendala untuk mendapatkan ITS yang punya standar sama. Kesulitannya mulai dari SDM, sampai membangun infrastruktur di daerah.
5. Budaya. Budaya di Indonesia yang agak kampungan mungkin juga salah satu faktor sulitnya ITS di Indonesia.
Itu dulu dari saya… nanti saya lanjutkan diskusinya… menarik.. (masih di kantor soalnya)
Regards
Denny Charter
–
Charter
Reply |
Forward |

|
show details 11:37 PM (13 hours ago)
|
|
Dear mas Zacky.
Setelah membaca-baca file2 dari mas Zacky (walau terbata-bata pake bhs
Jerman soalnya)
Saya terkagum-kagum dengan ITS disana…Bermimpi
suatu saat di Indonesia bisa seperti itu…cuma Saya yakin suatu saat
Indonesia Bisa…
Untuk konsep penerapan di Jakarta dan Indonesia saya nggak bisa
komentar banyak. Soalnya temen2 di pemerintahan yang jelas lebih tahu.
Saya berniat mempublish diskusi kita ini di Blog berharap pemerintah
membaca diskusi kita ini (nggak ngarap banget pastinya
) .
Sepengetahuan saya dan pengamatan saya di Jakarta saat ini baru Busway
yang sudah berjalan walaupun sebenarnya masih jauh dari sempurna.
Karena dikota aslinya infrastruktur Busway dibangun tersendiri. Kalau
di Jakarta terkesan dipaksakan. Jalur Busway mengambil paksa jalur
jalan umum akibatnya terjadi penyempitan dan kemacetan dibeberapa
titik menjadi tambah parah. Mungkin untuk perkembangan infrastruktur
transfortasi di Jakarta sebagai referensi bisa di lihat di forum ini :
http://forum.otomotifnet.com/forum/showthread.php?t=202
Sejak bergema nya ‘Busway’ di Jakarta, di daerah juga tidak
ketinggalan. Beberapa daerah di Indonesia mengembangkan sistem yang
serupa seperti di Bogor ada Trans Pakuan, atau di Palembang dengan
Trans Musi.
Untuk pemanfaatan CCTV dinamis dan terintegrasi saya rasa belum…
mungkin iya dibeberapa lokasi ada yang sudah menggunakan CCTV cuma
sepertinya statis. Apa lagi sistem angkutan umum yang memungkinkan
pengguna memperkirakan lamanya perjalanan saya rasa belum ada yang di
implementasikan dengan baik. Saya pernah membicarakan hal tersebut
dengan teman2 lainnya yang juga konsen pada pengembangan software
transportasi seperti Bpk. Anan Hartanto dari Semarang
(www.inotrans.com). Mengintegrasikan antara Sistem Pelacakan kendaraan
berbasis GPS dan GIS dengan applikasi eTicketing Transportasi sehingga
penumpang bisa mengetahui kapan kendaraan datang, waktu tempuh dan
informasi lainnya.
Resource di Indonesia sebenarnya punya potensi cuma sangat disayangkan
karena pemerintah kurang memberdayakannya… Sekian dulu…Terima
Kasih.
Regards
Denny Charter
Loading...